Tunggak Pajak Rp122 Juta, Teddy Coffe Terancam Ditutup

Teddy Coffe saat didatangi tim dari Dispenda Medan

Teddy Coffe saat didatangi tim dari Dispenda Medan

POJOKSATU.id, MEDAN- Tim Terpadu Penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan mengancam akan menutup Teddy Coffe di lantai 3 Sun Plaza Jalan KH Zainul Arifn. Selain menunggak pajak sekitar Rp122 juta lebih, pengusaha yang bergerak di bidang kafe ini juga dinilai tidak kooperatif dengan menolak bertemu dengan tim. Malah pegawainya pun dilarang untuk menandatangani berita acara yang disodorkan oleh tim.

Hal itu terungkap saat Tim Terpadu Penegakan Perda Kota Medan ketika mendatangi Teddy Coffe, Kamis (10/9/2015). Untuk itulah Kabid Pendataan dan Penetapan Dinas Pendapatan Kota Medan, Drs Nawawi segera berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan Satpol PP Kota Medan guna melakukan penutupan.

Gelagat pengusaha tidak beritikad baik untuk membayar tunggakan pajaknya terlihat ketika tim tiba di lokasi. Pada saat tim minta dipertemukan dengan pengusaha, para karyawan mengatakan pemilik Teddy Coffe tidak berada di tempat. Malah salah seorang karyawan bernama M Nuh Rangkuti yang mengaku sebagai penanggungjawab, menolak ketika diminta dihubungkan dengan pengusaha.

“Pimpinan kami tidak berada di tempat, sedang di luar kota sekarang. Handphone-nya juga tidak aktif, jadi tidak bisa dihubungi. Kalau ada pesan, nanti kami sampaikan kepada beliau,” kata M Nuh.

Meskipun Nawawi sudah mendesak M Nuh untuk menghubungi pengusaha Teddy Coffe namun tetap menolak, termasuk ketika tim mensodorkan berita acara untuk ditandatangani sebagai bukti tim sudah datang dan minta kepada pengusaha segera hadir ke Kantor Dispenda Kota Medan Jalan Jendral AH nasution, guna menyelesaikan tunggakan pajaknya tersebut.

“Maaf…Pak, saya sudah dilarang untuk menandatangani surat yang ada materainya, jadi saya tidak berani. Tapi kalau hanya menandatangani surat biasa saja, saya pasti mau. Saya takut kalau surat bermaterai (berita acara) itu ditandatangani, saya yang kena akibatnya,” tolak M Nuh.

Penolakan itu membuat Nawawi sempat emosi, sebab pengusaha dinilainya tidak menghargai kedatangan tim dan tidak punya itikad baik untuk menyelesaikan tunggakan pajaknya. Padahal tunggakan pajak Teddy Coffe, jelas Nawawi, cukup besar yakni Rp122 juta lebih untuk bulan Oktober 2014 sampai Februari 2015 dan Maret 2015 sampai Juni 2015.

Karena itu Nawawi pun bersikap tegas, dia mengatakan segera berkoordinasi dengan Disbudpar dan satpol PP Kota Medan untuk melakukan penutupan. Apalagi menurut salah seorang pegawai Disbudpar yang ikut tergabung dalam tim, Teddy Coffe juga tidak memiliki izin usaha, sehingga semakin menguatkan untuk melakukan penutupan.

Sebagai langkah awal bilang Nawawi, mereka akan menyampaikan surat peringatan penutupan. Apabila surat peringatan ini tak ditanggapi dan pengusaha tetap tidak mau membayar tunggakan pajaknya, penutupan pun dilakukan. “Jadi kita beri waktu dua bulan ini! Jika tunggakan pajak sebesar Rp122 juta lebih tak dibayar, kita minta Teddy Coffe ditutup!” tegasnya. (sdf)

Feeds