Gereja Dibakar di Aceh, Kapolri Pagari Sumut

Jenderal Badrodin Haiti

Jenderal Badrodin Haiti

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pergantian Tahun Baru Islam 1437 Hijriah ternoda dengan kerusuhan bernuansa SARA di Kabupaten Aceh, Singkil, Nangroe Aceh Darussalam, Selasa (13/10/205).

Polri tak mau insiden ini membakar emosi warga lainnya sehingga menimbulkan bentrokan susulan. Karena itu, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti langsung memerintahkan untuk menjaga ketat perbatasan Sumatera Utara-Aceh.

”Kita menyekat perbatasan Aceh-Sumut. Jangan sampai ada massa masuk dari Sumut melalui Singkil,” kata Badorodin dari rumah dinasnya di Jakarta, Selasa (13/10/2015) malam.

Perbatasan yang bakal mendapat prioritas pengamanan itu Tapanuli Tengah dengan Fakfak Barat dan Dairi. Pada Rabu dini hari ini, petugas sudah bersiaga di perbatasan ini.

Kapolri berharap semua pihak jangan mudah terprovokasi. ”Semua pihak harus bisa menahan diri,” kata Kapolri.

Dijelaskan Kapolri, sudah ada 20 orang yang dimintai keterangan. Petugas juga menyita berbagai barang sebagai barang bukti, mulai senjata tajam hingga puluhan sepeda motor.

Haiti menjelaskan, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara pemerintah daerah setempat dengan masyarakat terkait adanya 21 gereja yang dianggap bermasalah karena tak memiliki izin. Atas desakan masyarakat, maka pemda berjanji akan menertibkan dan melakukan pembongkaran.

“Tadi malam sudah ada pembicaraan dan kesepakatan antara pemda dengan masyarakat, di mana kesepakatan itu di antaranya untuk pembongkaran yang akan dilakukan 19 Oktober 2015,” katanya.

Nah, kata Haiti, ternyata kelompok masyarakat yang melakukan pembakaran itu tidak mengakui perwakilan masyarakat yang membuat kesepakatan dengan pemda kemarin malam tersebut.

Menurut dia, massa yang berjumlah 500 hingga 700 orang itu kemudian berkumpul sekitar pukul 8.00 pagi di sebuah masjid di Simpang Kanan, Singkil. Sekitar pukul 10.00, mereka bergerak menuju Tugu Simpang Kanan, namun berhasil diadang oleh pasukan Polri dan TNI.

Namun, kata dia, massa kemudian menuju rumah Ibadah GKHI di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah.

Haiti menegaskan, di tiap-tiap gereja sudah dilakukan pengamanan oleh Polri dibantu TNI. “Karena objeknya banyak hanya diamankan sekitar 20 orang, sedangkan massa jumlahnya 500 orang. Mereka kemudian sudah ada yang menyebar dengan sepeda motor menuju gereja dan melakukan pembakaran,” kata Haiti.

Setelah membakar gereja Desa Suka Makmur, massa kemudian bergerak Desa Dangguran. Di sini, massa yang membakar gereja di Desa Suka Makmur dihalang oleh massa yang menjaga gereja. Bentrok pun tak terhindarkan. “Di sana terjadi bentrok dengan warga yang menjaga gereja tadi. Di situ terjadi korban,” katanya.

(kan/ps)

BACA JUGA:
Pembakaran Gereja di Aceh Singkil: 2 Warga Muslim Tewas, 7 Sekarat

Feeds