Sambil Menangis, Fransiskus Bercerita Detail Jatuhnya Heli di Danau Toba

Fransiskus saat dirawat di rumah sakit

Fransiskus masih dirawat di rumah sakit

POJOKSATU.id, MEDAN-Fransiskus Subihardayan, penumpang helikopter EC 130 yang ditemukan selamat di perairan Danau Toba, hingga kemarin masih dirawat di RSUD dr Hadrianus Sinaga Pangururan Samosir. Namun, kondisinya sudah membaik.

Dengan suara yang terbata-bata, bahkan sesekali harus berhenti bicara karena harus mengambil tenaga, disertai linangan air mata, Frans menceritakan betapa mencekamnya peristiwa yang dialaminya itu.

Ditemui di RSUD, Frans menceritakan, hari Sabtu (10/10/2015) dirinya sudah berada di Siparmahan, Sihotang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir. Kemudian Minggu (11/10/2015) sekira 10.16 WIB, heli take off dari Bandara Kuala Namu dengan membawa 7 orang, terdiri dari 1 pilot, 1 teknisi, dan 5 orang penumpang dari keluarga Marihad Simbolon.

Sebelumnya Minggu (11/10/2015) sekitar pukul 07.16 WIB, diinformasikan bahwa helikopter akan delay karena saat itu visibility (jarak pandang) sekitar 100 meter di pulau Samosir.Setelah kondisi cuaca membaik maka helikopter landing di Siparmahan dengan baik. Selanjutnya direncanakan untuk shut down atau mematikan mesin sekitar 20 menit.

Sekitar pukul 10.40 WIB, helikopter take off dari Siparmahan dengan membawa 5 orang yang terdiri dari 1 pilot, 1 engineer dan 3 orang penumpang termasuk Frans. “Sehingga ada 5 orang di dalam heli,” ungkap pria yang tangannya sempat memutih karena berada di perairan selama 52 jam itu.

Frans melanjutkan ceritanya. Saat take off dari Siparmaan, heli melaju ke arah utara atau mengarah ke Kuala Namu. “Tetapi karena landingnya hanya 200 meter sehingga diputuskan putar balik ke arah kanan atau mengarah ke ujung pulau Samosir. Heli mengarah ke kanan terus dan merencanakan sampai di Silangit. Kapten bilang akan tambah ketinggian di Silangit saja karena Silangit itu daerah tertinggi di Samosir,” ungkapnya.

Masih kata Frans, setelah helikopter berbalik arah ke Silangit terkendala dengan asap. Jadi kapten bermaksud memecah awan terlebih dahulu dengan menggunakan ekor baling-baling helikopter. Heli diputar ke kanan dan ke kiri agar titik tertinggi di Samasir itu kelihatan.

“Saat beberapa kali berbelok ke kiri dan ke kanan, kapten tidak menyadari kalau heli berputar terlalu tajam hingga akhirnya turun dan tidak dapat lagi mengangkat ke atas. Hal ini ditambah dengan posisi heli yang sedang berbalik arah,” ungkapnya. (sdf)

Feeds