Yuk Kenalan Sama Bang Akhyar

Akhyar Nasution, calon wakil wali kota Medan saat meninjau ladangnya

Akhyar Nasution, calon wakil wali kota Medan saat meninjau ladangnya

POJOKSATU.id, MEDAN- Tampil apa adanya, kerjakan dan sukseskan setiap amanah secara maksimal. Begitulah keseharian Akhyar Naution dalam bergaul sebagai karyawan di satu perusahaan kontraktor dan staf laboratorium pabrik di Medan Deli.

Bagi kebanyakan orang Kota Medan, nama Akhyar Nasution selalu menjadi pertranyaan. Siapakah Akhyar, apa profesinya. Ketika mendekati penetapan calon tak pernah muncul, baik sosialisasi ke masyarakat hingga mengorbitkan diri untuk maju menjadi Calon Wakil Wali Kota Medan periode 2016-2021.

“Begitulah nasib, saya juga awalnya tidak menyangka begitu dipinang Bang Eldin untuk mendampinginya maju sebagai pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan,” kata Akhyar Nasution pada saat menuju ke Ladang Sawit dan Melinjo di kawasan STM Hulu-Deliserdang.

Akhyar dilahirkan dari buah pasangan Alm Anwar Nasution-Siti Aisyah di Medan pada 21 Juli 1966, selanjutnya dibesarkan di kawasan Pajak Pagi Tanjung Mulia, perbatasan Medan Deli dengan Medan Timur.

Bapak dua anak ini, mengenyam sekolah formal di SD Negeri 060863/27 Kelurahan Brayan Bengkel, Medan Timur dan melanjutkan pendidikan di SMPN 9/11 Kelurahan Pulo Brayan Kota.

Kemudian masuk SMA Negeri 3 Medan hingga mendapatkan kesempatan melalui jalur Penerimaan Berdasar Minat dan Kemampuan (PMDK) masuk ke USU diterima jurusan Fisika USU.

“Tapi saya tak sampai satu semester sudah keluar, saya bekerja menjadi staf laboratorium di salah satu pabrik minya goreng,” kata suami dari Nurul Khairani Lubis.

Akhyar bercerita, alasan memberhentikan kuliah di jurusan Fisika USU, karena pada awalnya dirinya berfikir akan banyak mempelajari tentang nuklir. Namun, fakta berbicara lain alhasil keputusan tak berkuliah menjadi satu keputusan terberat.

“Saya awalnya pingin kuliah di jurusan Kimia Nuklir, tapi di USU tidak ada. Makanya saya pilih Fisika, nyatanya tidak memperlajari itu. Terpaksa saya keluar dan memilih jadi staf Laboratorium di Pabrik minyak goreng,” ucap anak tukang jahit ini belum lama ini.

Di tengah menjalani pekerjaan pada 1986 hingga 1988, mantan Ketua OSIS SMA Negeri 3 pada tahun 1985 menyebutkan, ada seseorang temannya mengajak diskusi tentang kuliah.

Niat untuk kuliah lagi memang ada, namun belum tahu jurusan apa. “Saya hanya bilang, jurusan apa yang pas. Untuk anak tukang yang suka jalan-jalan ini,” tanyanya kepada seorang temannya.

“Kalau teknik sipil bagaimana, kamu bisa kerja berkeliling-keliling untuk mengawasi pekerjaan dan banyak tantangannya,” jawab temannya Yusni Darma.

Pada 1988, akhinya putra sulung dari 11 bersaudara ini kembali kuliah di USU. Namun, jurusan yang diambilnya berbeda dari tahun 1986. “Ya saya masuk melalui jalur ujian dan mengambil jurusan Teknik Sipil,” ucapnya.

Dalam perjalannya sebagai mahasiswa dan terlahir sebagai anak yang memiliki darah Marhaenisme, Akhyar pun mendapatkan jabatan sebagai Sekretaris Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Teknik Sipil USU. “Bapak saya merupakan pengurus

PDI dan pengurus Gerakan Pemuda Marhaenisme pada tahun 1960-an. Jadi saya memang memiliki darah Marhaenisme, makanya saya terus berkecimpung dan berorganisasi di PDI-P,” kata pria penghobi baca dan jalan-jalan ini.

Setelah menamatkan kuliah, pada tahun 1995 Akhyar bekerja di salah satu perusahaan kontraktor PT Fajar Hamparan Mas di Jalan Krakatau, Medan, ikut merancang dan menggambar jalan serta membangun jembatan hingga pengawasan ke sejumlah proyek pembangunan.

“Sampai sekarang saya juga masih tercatat sebagai karyawan, tapi sudah tidak aktif. Jadi perusahaan inilah sebagai wadah tempat saya mencurahkan keilmuan saya saat kuliah di USU,” sebutnya.

Sebelum kuliah di USU, Akhyar sudah menekuni ilmu pertukangan. Pelajaran praktek pertama yang dilakoninya bersama Kekeknya, Alm Ngadimin. Kakeknya merupakan serang tukang talang air di kawasan Tanjung Mulia.

“Setiap pulang sekolah, saya bantu Kakek membantu membuat talang air, dan segalanya yang dibuat dari kaleng. Terkadang juga saya belajar jahit sama ibu. Karena ibu saya tukang jahit,” sebutnya.

Darah tukang inilah yang terus mengalir dan mengantarkannya sebagai insinyur bergelar insisyur. Perlahan di tengah kesibukannya di partai, dan menjadi anggota DPRD Medan periode 1999-2004 keaktifannya sebagai insinyur mulai berkurang.

“Saya sejak 1996 bergabung menjadi politisi PDI-P. Saat itulah ternyata PDI-P membutuhkan ‘tukang’ pasca ada perpecahan PDI,” ucapnya pria yang sempat menjadi Ketua PAC PDI-P Medan Deli.

Setelah tak menjabat sebagai anggota DPRD Medan, Akhyar kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang insinyur sipil. Bekerja membangun sejumlah tower di Kota Medan dan Sumut.

“Pada 2008 saya ditelpon Bang Japorman Saragih, ketika itu dia menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI-Perjuangan Sumut. Saya diajak untuk bersama memenangkan PDI-P. Setelah itulah saya terus aktif kembali jadi pengurus PDI-P di Sumut,” ucapnya saat dalam perjalanan dari kediamannya menuju ladanganya di Kampung Teratak, Desa Tanah Garah Hulu, STM Hulu- Deliserdang.

“Sejak saya menjadi Calon Wakil Wali Kota, baru inilah saya datang ke ladang. Sudah tiga bulan saya gak ke ladang. Biasaya saya bawa anak dan istri ke ladang, ya sekalian reakreasi untuk menenangkan diri,” ucapnya sambil tertawa.

Mengenai sampai menjadi Calon Wakil Wali Kota Medan berpasangan dengan Dzulmi Eldin. “Ini semua Benar-Benar kebetulan, saya tidak sangka. Sulit untuk mencari benang merahnya,” katanya.

Akhyar bercerita, saat menjadi Anggota DPRD Medan periode 1999-2004 merupakan satu kesempatan di mana berhubungan dengan Dzulmi Eldin. Pada tahun 2002, Dzulmi Eldin sebagai Kepala Dinas Pendapatan Kota Medan counterpat Komisi C DPRD dan Panitia Anggaran.

“Pada saat saya jadi Panitia Anggaran yang ditunjuk Ketua DPRD Medan Tom Adlin, saya dan Bang Eldin sering berdiskusi tentang anggaran Kota Medan. Inilah kerja sama kami setiap tahun hingga akhir periode saya pada tahun 2004,” sebutnya.

Dia menyebutkan, kerja sama dan diskusi antara panitia anggaran legislatif dan esekutif inilah yang mungkin mengingatkan Bang Eldin kepadanya. “Ya mungkin saja Bang Eldin ingat ke saya karena saya dulunya mitra diskusi dan kerjasama terkait penyusunan APBD,” katanya.

Akhyar menyatakan, hubungannya dengan Bang Eldin saat ini bukan lagi mitra, tapi sudah menyatukan hati demi membangun Kota Medan ke jalan yang BENAR.

“Saya sebagai tukang, pastinya pingin kerja terus. Saya juga punya mimpi sama Bang Eldin untuk membangun satu monumental yang bisa dikenang masyarakat Kota Medan serta bernilai bagi seluruh wisatawan,” sebutnya. (sdf)

Feeds