Hamil Tua, ABG Samosir yang Tebus Ijazah dengan Seks Tak Punya Biaya Persalinan

POJOKSATU.id, MEDAN – Anak baru gede (ABG) asal Samosir, Sumatera Utara (Sumut) yang menebus ijazah dengan seks ke oknum kepala sekolah SD, kini hamil tua. Ia bingung karena tak memiliki uang untuk persalinannya nanti. Terlebih, orang tuanya hanya seorang petani miskin.

ABG asal Desa Lumban Suhisuhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir itu dipaksa melayani nafsu bejat oknum kepsek berinisial BS sebanyak tiga kali pada Desember 2014. IS merelakan kegadisannya direnggut sang kepsek karena tak punya uang untuk menebus ijazahnya.

Selain BS, ada 10 lelaki lain yang pernah mengagahi ABG malang itu. Persetubuhan dilakukan di tempat dan waktu berbeda sejak Desember 2014 hingga Mei 2015. Kini, IS sedang hamil tua. Namun, ia tidak tahu siapa ayah asli dari janin yang dikandungnya.

Meski tiga kali disetubuhi BS, namun IS tidak yakin sang kepala sekolah adalah ayah dari janin yang dikandungnya. Pasalnya, BS mencabulinya pada Desember 2014, sehingga rentang waktunya sudah 10 bulan.

Menurut BS, kejadian itu berawal ketika dirinya dipanggil BS. Sang kepala sekolah menawarinya ijazah SD yang belum diambil karena tidak punya uang. Tanpa curiga, IS memenuhi panggilan BS. IS lalu dibawa ke rumah BS yang ketika itu memang sedang sepi.

Setelah tiba rumah BS, ia dibawa ke rumah kosong di sebelah rumah BS dan meminta jatah kepada IS. Sang kepala sekolah mengancam tidak akan memberikan ijazahnya jika tak melayani permintannya.

IS yang diketahui memiliki keterbelakangan mental tak bisa menolak. Terlebih, dia butuh ijazah untuk mendaftar ke SMP. Akhirnya, IS pasrah dan merelakan kegadisannya direnggut sang kepala sekolah.

Setelah kejadian itu, rupanya sang kepala sekolah ketagihan dengan kemolekan tubuh IS hingga dia kembali meminta jatah hingga tiga kali. Lagi-lagi IS hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Perbuatan bejat itu dilakukan BS di tempat yang berbeda.

Keluarga IS mangadukan kasus tersebut ke polisi. Namun, putra BS merupakan anggota polisi dan sempat mengancam mereka, hingga akhirnya kasus itu terkesan jalan di tempat. Belakangan, BS mengejek keluarga IS karena kasusnya tidak diproses.

Kapolres Samosir AKBP Eko Supriyanto membenarkan kasus tersebut. Namun, kapolres membantah jika penanganan perkara ini lambat karena putra BS merupakan anggota kepolisian.

“Enggak begitu, memang korban melaporkan seorang mantan kepala sekolah. Cuma kita kesulitan karena dia ada keterbelakangan mental dan keterangannya berubah-ubah,” ujar Eko, seperti dilansir sumut.pojoksatu.id, Minggu (11/10/2015).

Mengetahui kasus tersebut, Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait langsung turun tangan. Arist Merdeka langsung menemui korban di Medan. Ia emosi lantaran korban merupakan ABG yang memiliki keterangan mental.

Arist Merdeka Sirait mendesak Polres Samosir segera menangkap para pelaku. Ia berharap kasus tersebut diusut sampai tuntas.

“Ini kejahatan yang sangat luar biasa dan keji dikakukan warga kampung sendiri. Saya ingatkan agar polisi, dalam hal ini Polres Samosir segera menangkap 11 pelaku. Karena ini adalah kejahatan kemanusiaan,” tegas Arist Merdeka.

(fir/sdf/one)

Feeds