Kasihan, Warga Pakistan Dipidana di Medan Gegara Sapulidi

Warga Pakistan Muhammad Tahir Saleem disidang di PN Medan gara-gara sapuli. | Foto: sah/pojoksatu.id

Warga Pakistan Muhammad Tahir Saleem disidang di PN Medan gara-gara sapuli. | Foto: sah/pojoksatu.id

POJOKSATU.id, MEDAN – Warga negara Pakistan, Muhammad Tahir Saleem, 32, harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Medan karena Sapulidi. Pria ini didakwa melakukan aktivitas kerja di Kota Medan tanpa dokumen yang jelas.

Dalam agenda dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (29/10), pria berkulit hitam tegap dan berhidung mancung ini didampingi penerjemah. Kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU), Fatah Chotibbuddin dari Kejaksaan Tinggi Sumut (Kejatisu) menyatakan terdakwa menyalahgunakan ijin tinggal dan menggunakannya untuk bisnis.

“Terdakwa melakukan penyalahgunaan izin tinggal. Terdakwa memiliki izin kunjungan, namun melakukan pendirian usaha dan berinvestasi di perusahaan sapulidi,” ujarnya usai persidangan.

terdakwa disebutkan telah melanggar pasal 122 huruf (a) jo pasal 75 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, yakni dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin tinggal yang diberikan kepadanya. “Didakwakan dengan pasal 122 huruf (a) UU keimigrasian dengan ancaman hukuman 5 tahun,” ujarnya.

Usai mendengarkan dakwaan dari jaksa pada sidang yang dipimpin Majelis Hakim Erin Tuah Damanik itu, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dari pihak Imigrasi, yakni Erlangga dan Selamet.

Menurut keterangan dari saksi Erlangga, kalau berdasarkan laporan warga masyarakat adanya aktifitas warga asing. Dan kemudian setelah dilakukan pengecekan ternyata terdakwa tengah memantau pekerjanya.

“Jadi saat kami cek ke lokasi, terdakwa ini lagi memantau pekerjanya, di pabrik sapu lidi. Dan setelah kami minta data-data paspor, terdakwa tidak dapat menunjukkannya. Sehingga kami amankan ke kantor untuk pemeriksaan,” jelas Erlangga.

Sementara Selamet mengatakan, kalau terdakwa melakukan penyalahgunaan izin tinggal. “Izin tinggalnya itu kunjungan, tapi terdakwa melakukan bisnis, dan itu sudah melanggar peraturan,” tambahnya.

Namun, penasehat hukum terdakwa sempat mempertanyakan kepada saksi apakah penangkapan tersebut berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Selamet menjawab, kalau kujungan namun melakukan pekerjaan merupakan pelanggaran aturan. Jadi berdasarkan pengalaman dia bekerja di Imigrasilah yang membuatnya menangkap terdakwa.

Hakim Anggota Fauzul Hamdi sempat menjelaskan maksud pertanyaan dari penasehat hukum, Taufan Tambunan juga kembali mendapatkan jawaban yang sama yakni berdaarkan pengelaman selama kerja di imigrasi bukan ketentuan undang-undang.

Sementara usai sidang, Taufan Tambunan mengatakan, kedatangan kliennya ke Medan untuk berinvestasi, membeli sapulidi hasil kerajinan tangan masyarakat ke Pakistan.

“Sapulidi dia beli dari Medan karena di Pakistan tidak ada bahan bakunya. Di sana menyapu masjid tidak pakai sapu lidi, saya sudah melihat itu di India. Kegiatan ini baru dimulai dengan dia buat perusahaan di sin. Dia juga mulai mendirikan akte, namun izin dia bekerja kan belum ada karena masih memulai, makanya kemari dia pakai visa kunjungan,” paparnya.

Atas penangkapan tersebut, Taufan mengatakan, pihaknya akan melaporkan saksi Selamet Sutarno ke Presiden RI Joko Widodo.

“Klien saya ini sudah dua bulan ditahan. Masyarakat jadi bingung sapulidi itu mau jual ke mana, dan saat ini di gudang numpuk 20 ton. Untuk itu, saya akan mengadukan saksi ke presiden, karena dia langsung tahan. Padahal dia di Medan untuk berinvestasi,” pungkasnya.

Sidang ditunda untuk dilanjutkan pekan depan. Sebelumnya, Muhammad Tahir Saleem ditangkap di perusahaan sapu lidi di Jalan Jati Luhur, Helvetia, Medan. Sapu-sapu ini rencananya akan diekspor ke Pakistan. (sah/sdf)

Feeds