Bah, Aset Kementerian Pariwisata Senilai 70 Juta Dilarikan Tukang Becak

Dua staf Kementerian Pariwisata saat berada di Polsek Medan Baru, untuk melaporkan aset kantornya senilai 70 juta yang dilarikan tukang becak, Senin (2/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

Dua staf Kementerian Pariwisata saat berada di Polsek Medan Baru, untuk melaporkan aset kantornya senilai 70 juta yang dilarikan tukang becak, Senin (2/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

POJOKSATU.id, MEDAN-Aset Kementerian Pariwisata senilai Rp 70 Juta dilarikan pengemudi becak motor (betor). Aset yang berupa barang-barang elektronik seperti kamera DSLR Canon 5D Mark II, lensa Tamron 18-300 mm, Handycam Sony, lampu flash, ‎tripod, 2 unit laptop Lenovo dan Asus, serta 2 unit hardisk eksternal, dilarikan pelaku saat dibawa dua staf Kementerian Pariwisata, Rudi Arman Sidauruk dan Deni Parawibowo, Minggu (1/11/2015).

Akibatnya, kedua korban yang menunda kepulangannya ke Jakarta mendatangi kantor Polsek Medan Baru, Senin (2/11/2015) siang. Keduanya hendak melaporkan pencurian yang dialaminya.

Menurut pengakuan korban, kejadian itu berawal saat keduanya datang ke Medan untuk menghadiri acara festival buah di Wisma Benteng Jalan Raden Saleh. Setelah selesai acara, keduanya pun beranjak pergi dan hendak membeli oleh-oleh di Jalan Kruing.

“Setelah selesai tugas, kami mau beli Bolu Meranti untuk oleh-oleh. Soalnya, kalau ke Medan pasti kita beli Bolu Meranti.,” ujar Deni memulai pembicaraan.

Saat masuk ke dalam toko tersebut, lanjut Deni, ia terkejut mengetahui barang bawaannya dilarikan pengemudi betor yang ditumpanginya.

“Waktu kejadian pas hujan deras, jadi kami tidak berani menurunkan barang- barang. Saya suruh kawan mengawasi tukang becaknya yang sedang mencari tempat parkir. Ternyata, dia kabur melarikan barang- barang kami. Padahal, kami hanya sebentar saja kira-kira 10 menit,” ungkap Deni.

Dikatakannya, selain aset milik tempat kerjanya, barang pribadinya juga dibawa kabur pengemudi becak bermotor itu. Barang pribadi mereka. mencapai Rp 15 juta.

Menurut Deni, kejadian itu sudah dilaporkan Polsek Medan Baru. Namun, Deni dan rekannya kecewa karena merasa penanganan dari polisi tidak sesuai harapan. “Memang ada petugas reserse yang ke TKP tapi hanya melihat-lihat sekitar 15 menit. Dia pun bilang tak perlu meminta rekaman CCTV di wilayah itu karena percuma,” sebut Deni.

Dibantu rekan-rekannya yang bertugas di Medan, kedua staf Kementerian Pariwisata inipun berinisiatif mengumpulkan rekaman CCTV. Mereka mendatangi rute yang mereka datangi menumpang becak bermotor itu. Selain ke tempat Bolu Meranti mereka juga ke toko Bika Ambon Zulaika.

“Di Zulaika, mereka memberikan rekamannya terlihat pengemudinya. Tapi di Bolu Meranti mereka hanya memfotokan karena katanya tidak ada teknisi,” papar Deni.

Di toko Bika Ambon Zulaikha, sambung Deni, pengemudi becak bermotor itu bahkan sempat diminta mengisi buku tamu. “Pada buku tamu, dia menulis marganya Pasaribu. Ciri-ciri fisiknya kulit putih, wajah oval, gigi tonggos, sedangkan tingginya sekitar 170 cm,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolsek Medan Baru Kompol Ronni Nic‎olas Sidabutar yang dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya laporan korban.

“Laporannya sudah kita terima. Bukan dirampok, tapi mereka meninggalkan barangnya lalu dibawa penarik betornya. Laporannya kita respons lah, mana mungkin tidak. Ini masih penyelidikan,” ujarnya. (fir/sdf)

Feeds