Narkoba Senilai 20 Miliar Mirip Jenis Baru, Sekali Telan Bisa Teler 3 Hari

Petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi asal Tiongkok senilai 20 miliar, yang diamankan dari dua bandar jaringan internasional, Selasa (3/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

Petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi asal Tiongkok senilai 20 miliar, yang diamankan dari dua bandar jaringan internasional, Selasa (3/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

POJOKSATU.id, MEDAN-Narkoba senilai 20 miliar yang terdiri dari 12 Kg sabu-sabu dan 22 ribu pil ekstasi, yang diamankan dari seorang bandar narkoba bernama Tomi (22), penduduk Komplek Taman Perwira Indah, Jalan Perwira/Medan-Binjai Kec. Medan Sunggal, Selasa (3/11/2015) lalu, ternyata mirip dengan jenis ekstasi baru.

Narkoba jenis baru yang beredar saat ini dikabarkan sekali telan mampu membuat pemakainya teler selama tiga hari.

Puluhan ribu barang bukti ekstasi yang disita petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan ini, memiliki kesamaan dari ekstasi yang sebelumnya diungkap Polsek Medan Barat jajaran Polresta Medan beberapa waktu lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kamis (5/11/2015), kesamaan terlihat pada warna dan cap. Pada pil ekstasi berwarna pink itu, terdapat lambang gagang telepon di bagian tengahnya. Ektasi tersebut disusun rapi dengan plastik klip berukuran sedang dan setiap bungkusnya berisi 500 butir.

Dari 22 ribu pil ektasi tersebut, selain pink terdapat warna hijau dan kuning dengan cap yang sama. Terdapat juga satu bungkus berwarna keemasan, tetapi dengan cap jempol.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan Kompol Wahyudi yang dihubungi soal kemiripan tersebut belum berani memastikan. Wahyudi mengaku masih mendalaminya. “Masih kita dalami,” katanya via seluler.

Disinggung apakah Tomi satu jaringan dengan pelaku narkoba yang ditangkap Polsek Medan Barat, Wahyudi juga mengatakan demikian. “Belum, belum, masih didalami,” tutup mantan Kapolsek Medan Kota ini.

Sama halnya dengan Wahyudi diutarakan Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto. Mardiaz tak banyak berbicara soal perkembangan kasus peredaran gelap narkotika dari jaringan Tiongkok ini. “Masih kita dalami, belum bisa dipastikan apakah mereka itu satu jaringan,” ujarnya saat ditemui di halaman Mapolresta Medan.

Sebagaimana diketahui, Tomi bersama kurirnya Hendra (35) warga Jalan Jemadi ditangkap petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan dari tempat terpisah. Dari keduanya, disita barang bukti tersebut.

Sementara itu, sebelumnya Polsek Medan Barat merilis bahwa sebanyak 200 butir pil ekstasi yang diamankan dari seorang bandar dan dua wanita sebagai kurirnya dari kawasan Jalan Glugur dan Jalan Yos Sudarso Medan, Sabtu (26/9) lalu, merupakan temuan jenis baru. Ekstasi berwarna pink ini mampu memberikan efek teler sampai tiga hari.

“200 butir ekstasi yang kita amankan dari seorang bandar dan dua kurirnya, ternyata merupakan jenis baru. Temuan ini berdasarkan hasil pengujian Labfor Polri,” kata Kapolsek Medan Barat Kompol Siswandi yang kini menjadi Kasat Sabhara Polresta Medan.

Dijelaskannya, dari hasil pengujian laboratorium terhadap 20 butir, narkotika ini memiliki kandungan P-Metoksi Metamfetamina (PMMA).

“Kualitas dan komposisinya berbeda dengan dipasaran. Biasanya, ekstasi yang beredar mengandung MDMA (Metil Dioksi Metafetamin) dan MA (Metafetamin). Sementara, ini kandungannya PMMA, ada campuran sabu-sabu,” terang Siswandi.

Menurutnya, bila mengkonsumsi ekstasi cap telepon ini, penggunanya bisa teler sampai 3 hari. “Untuk mendapatkan barang ini tidak bisa sembarangan, hanya ‘orang khusus’ atau kalangan menengah-atas dan harganya pun perbutir mencapai Rp 500 ribu,” beber Siswandi.

Ia menyebutkan, barang haram ini diproduksi dari luar negeri (Tiongkok) dan masuk kategori jaringan internasional.

“Narkotika jenis baru tersebut telah beradar di Medan, informasinya sudah mencapai ratusan bahkan ribuan. Untuk itu, kita masih mendalami lagi peredarannya,” pungkanya. (fir/sdf)

Feeds