Narkoba 20 Miliar Diduga Dikendalikan Napi Tanjung Gusta

Petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi asal Tiongkok senilai 20 miliar, yang diamankan dari dua bandar jaringan internasional, Selasa (3/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

Petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan menunjukkan barang bukti sabu-sabu dan ekstasi asal Tiongkok senilai 20 miliar, yang diamankan dari dua bandar jaringan internasional, Selasa (3/11/2015). | Foto: fir/pojoksatu.id

POJOKSATU.id, MEDAN-Dua jaringan narkoba Tiongkok (China), Tomi (22) dan Hendra (35) yang mengedarkan narkotika di Kota Medan sekitarnya, disebut-sebut dikendalikan narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta.

Bukan tanpa sebab, munculnya dugaan itu diperkuat dengan diamankannya dua napi penghuni lapas tersebut, oleh petugas Satuan Reserse (Satres) Narkoba Polresta Medan.

Menurut informasi yang diperoleh di lapangan Jumat (6/11/2015), kedua napi tersebut adalah Ralimuddin divonis hukuman 9 tahun dan Andy Voon 17 tahun penjara. Kedua pria yang juga warga keturunan Tiongkok ini, dibawa petugas Satres Narkoba Polresta Medan dari Lapas Tanjung Gusta pada Selasa (3/11) malam lalu untuk menjalani pemeriksaan.

Disebut-sebut, keduanya masih diamankan polisi guna pengembangan kasus.

Pihak Satres Narkoba Polresta Medan terkesan masih menutupi kasus peredaran narkotika jaringan internasional tersebut. Pasalnya, polisi tak mau memberi penjelasan lebih jauh.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan Kompol Wahyudi yang dikonfirmasi enggan memberikan keterangan. Namun sebelumnya, Wahyudi mengaku pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus tersebut. “Masih kita dalami,” ujarnya singkat via seluler.

Saat ditanya kembali melalui pesan singkat apakah kedua napi tersebut ditahan atau dipulangkan ke lapas, Wahyudi tak memberikan jawaban sedikitpun. Mantan Kapolsek Medan Kota ini terkesan tutup mulut.

Sama halnya dengan Wahyudi, diutarakan Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto. Mardiaz tak banyak berbicara soal perkembangan kasus peredaran gelap narkotika jaringan Tiongkok ini. “Masih kita dalami, belum bisa dipastikan apakah mereka itu satu jaringan,” ujarnya.

Menurut Mardiaz, tidak menutup kemungkinan dalam kasus tersebut ada tersangka lain. Akan tetapi, pihaknya masih menunggu pembuktian. “Memang ada mengarah ke tersangka lain dan polisi masih menunggu pembuktian,” katanya.

Diakui Mardiaz, dari beberapa kasus narkoba yang ditangani pihaknya ada keterkaitan. Namun, kerapkali terputus. “Narkoba ini sumbernya sama, namun terkadang jaringannya terputus,” tuturnya.

Sementara itu, terkait diboyongnya dua napi tersebut, Kepala Lapas Kelas I A Tanjung Gusta Medan, Arfan, membenarkan. Ia mengaku sangat mendukung. “Jika dua narapidana yang diperiksa tersebut benar terlibat, tentunya harus segera ditindaklanjuti,” sebut Arfan kepada wartawan.

Menurut Arfan, pihaknya sampai saat ini masih menunggu keterangan hasil pemeriksaan terhadap kedua napi itu dari kepolisian.

Sebagaimana diketahui, Tomi dan Hendra ditangkap petugas Satres Narkoba Polresta Medan dari dua tempat terpisah. Tomi diciduk dari kawasan Jalan Ringroad Medan Sungga, sedangkan Hendra dari Jalan KL Yos Sudarso Medan Barat.

Dari keduanya, disita barang bukti 12 kg sabu-sabu, 22 ribu butir pil ekstasi siap edar cap telepon serta jempol dan bahan-bahan ekstasi siap cetak seberat 4,5 kg atau sebanyak 15 ribu butir jika dicetak. Barang bukti narkotika senilai Rp 20 miliar ini diseludupkan dari Negeri Tirai Bambu. (fir/sdf)

Feeds