Buwas Lihat-lihat Buaya di Asam Kumbang untuk Jaga Bandar Narkoba

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso saat berkunjung ke Penangkaran Buaya Asam Kumbang Medan, Rabu (11/11/2015). | Foto:(fir/pojoksatu.id

Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso saat berkunjung ke Penangkaran Buaya Asam Kumbang Medan, Rabu (11/11/2015). | Foto:(fir/pojoksatu.id

POJOKSATU.id, MEDAN-Wacana Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso (Buwas) yang akan membangun rumah tahanan bagi bandar narkoba dengan dikelilingi kolam berisi buaya bakal segera diwujudkan.

Terobosan ekstrim itu dipertegas Buwas dengan mengunjungi Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Jalan Bunga Raya II, Medan Selayang, Rabu (11/11/2015).

Dalam kunjungan itu, Buwas didampingi oleh Kepala BNNP Sumut Brigjen Andi Loedianto dan pemilik Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Robert Lo untuk melihat hewan buas ini.

Beberapa kolam buaya pun disambangi Buwas, mulai dari usia 4 tahun hingga 42 tahun. Selain itu, Buwas pun memberikan makanan kepada buaya berupa beberapa ekor itik untuk mengetahui seberapa besar tingkat agresivitasnya.

“Wacana itu suatu pemahaman dan pemikiran terobosan ke depan. Kekuatan petugas lapas/rutan tidak sesuai untuk bandar narkoba. Karena, ada keterbatasan, kemampuan dari petugas lapas. Jadi, buaya ini akan kita gunakan untuk kekuatan guna mengawasi para bandar narkoba agar tidak melarikan diri. Nantinya kalau sudah dievaluasi oleh Menkumham mungkin akan ditindaklanjuti,” kata Buwas disela-sela kunjungannya.

Menurut Buwas, buaya sengaja dipilih sebagai hewan untuk mengawasi para tahanan. Sebab, buaya memiliki umur hidup yang cukup panjang bisa sampai 100 tahun.

“Kalau dikaitkan dengan kolam, hewan yang sangat memungkinkan adalah buaya. Kalau hewan lain, seperti harimau atau singa tentunya bisa melompat dan berusaha menggapai mangsanya,” terang jenderal bintang tiga ini.

Disebutkan Buwas, buaya yang ada di Medan, cukup bagus dan agresif, bisa direalisasikan dengan wacananya. Buaya yang cocok untuk mewujudkan terobosan itu, berusia sekitar 8 tahun.

“Tujuan kita ingin melihat mana buaya yang agresif. Sebab, kita memerlukan buaya yang seperti itu. Karena, ketika ada sesuatu atau pergerakan maka buaya itu akan bereaksi. Nantinya, selain di Medan saya akan meninjau beberapa tempat lagi (penangkaran buaya) di daerah lain seperti Sulawesi, Papua dan lainnya,” imbuh jenderal bintang tiga ini. (fir/sdf)



loading...

Feeds