Aduh, Jaksa Kesetrum Mikrofon Saat Sidang Korupsi

Ilustrasi sidang

Ilustrasi sidang

POJOKSATU.id, MEDAN – Sidang dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) RSUD Pirngadi Medan di ruang sidang utama Cakra I Pengadilan Negeri (PN) Medan, (Senin (16/11/2015) diwarnai kejadian tidak mengenakkan bagi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Netty Silaen.

Pada sidang yang dipimpin Majelis Hakim Marsudi Nainggolan dan Hakim Anggota Lisfer Berutu dan Deni Iskandar tersebut, Netty yang giliran menanyai tiga saksi yang dihadirkan mendadak tersentak kaget karena mikrofon yang dipakainya menyetrum tangannya.

Sebagai langkah antisipasi agar hal serupa tidak terulang, Netty selanjutnya membalut mikrofon tersebut dengan kertas lalu memagangnya. “Nyetrum miknya,” ujarnya singkat.

Pada sidang yang menghadirkan tiga terdakwa Arpen Asnawi selaku rekanan dari PT Indo Farma Global Medica, Kamsir Aritonang selaku sub kontrak dari PT Graha Agung Lestra dan Tuful Zuhri Siregar Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Selanjutnya, Netty mencecar salah seorang saksi, Haposan yang merupakan Direktur CV Duta Mulia Pratama, perusahaan yang dicatut Arpen Asnawi dalam Pengadaan Alat Kedokteran dan Kesehatan Untu Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Sumber Dana APBD Provinsi Sumatera Utara TA 2012 tersebut.

Pada pertanyaan yang diajukannya, JPU Netty kembali menanyakan hal-hal yang sebelumnya disampaikan Haposan dalam berita acara pemeriksaan. Sementara sebelumnya, Majelis Hakim Marsudi Nainggolan juga menanyakan beberapa hal kepada Haposan.

“Jadi saudara Arpen mencatut CV saudara. Jadi dalam hal ini ada perubahan akta pendirian, tapi saudara tidak mendapat pemasukan modal, apa namanya itu? Bolehkah hal seperti itu dibuat? Ujar hakim. Menjawab hal tersebut, saksi terdiam.

Namun menurut Haposan, dirinya tidak ada mendapatkan imbalan apa-apa atas pencatutan nama perusahaannya tersebut dari pihak Arpen Asnawi. Menurutnya, Arpen sebelumnya berhutang sebesar Rp75 juta kepadanya dan tidak ada kaitannya dengan proyek Alkes RSUD Pirngadi.

Sementara dalam pembelaannya pada keterangan saksi Haposan, Arpen Asnawi menyebutkan, bahwa uang Rp75 juta yang diberikannya kepada Haposan bukan merupakan utang. DIrinya tidak pernah berutang Rp75 juta kepada Haposan.

Sementara uang Rp75 juta yang diberikannya tersebut merupakan fee untuk mengurus proyek Alkes tersebut.

Sidang tersebut juga menghadirkan saksi dari Bank Sumut, Faisal Panggabean dan dari RSUD Pirngadi Ariani. Sebelum menunda sidang untuk dilanjutkan pekan depan, Majelis Hakim Marsudi Nainggolan mengatakan, Haposan selanjutnya akan kembali dihadirkan untuk mendengarkan kesaksiannya.

Diketahui, dalam kasus korupsi alkes yang bersumber dari dana Direktorat Jendral (Dirjen) Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun anggaran (TA) 2012 senilai Rp 2,5 miliar dengan kerugian negara mencapai Rp1,1 miliar ini sejak penyidikan dimulai pada Agustus 2013 hingga sekarang.

Sedangkan mantan Direktur utama (Dirut) RSUD dr Pirngadi Medan, Amran Lubis yang menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA saat ini berkasnya masih belum lengkap untuk dilimpahkan ke kejaksaan. (sah/sdf)



loading...

Feeds