MEA Dibentuk untuk Satukan Kekuatan Ekonomi Asean

Dr Widyo Winarso, Deputi dan Direktur Student Affair Ristek Dikti, menandatangani sertifikat untuk dibagikan kepada peserta seminar.

Dr Widyo Winarso, Deputi dan Direktur Student Affair Ristek Dikti, menandatangani sertifikat untuk dibagikan kepada peserta seminar.

POJOKSATU.id, MEDAN- Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional (Permi Komnas) Institut Teknologi Medan (ITM) menggelar gelar seminar nasional dan kuliah umum dengan thema “Peranan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi (IT) Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), di kampus Jalan Gedung Arca Medan, Senin (16/11/2015) kemarin.

Seminar nasional dan kuliah umum menghadirkan nara sumber Dr Henry Subiakto SH MA, staf ahli Kemkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa dan Dr Widyo Winarso, Deputi dan Direktur Student Affair Ristek Dikti.

Dr Widyo Winarso dalam kesempatan tersebut mengatakan sangat mengapresiasi para panitia dan peserta hingga sampai disini dan mendukung kegiatan ini hingga dapat berjalan dengan baik dan sukses.

Dia menyebutkan berdasarkan hasil survey daya saing di dunia tahun 2015 Indonesia memiliki peringkat persaingan di peringkat 37, sementara untuk Asean Indonesia menduduki peringkat 4. Oleh sebab itu dalam menghadapi MEA kita berupaya untuk mensetarakan level pendidikan kita dengan negara lain di Asean.

“MEA dibentuk bukan untuk bersaing, tapi untuk mempersatukan kekuatan negara-negara Asean untuk menghadapi negara-negara besar seperti Jepang, Cina maupun Korsel. Karena kalau menghadapi sendiri negara-negara Asean sudah pasti tidak akan sanggup oleh sebab itu dibentuklah MEA,” sebutnya.

Disebutkannya, mulai 31 Desember 2015 atau tepatnya pada tanggal 1 Januari 2016, praktis MEA sudah berjalan oleh sebab itu inflikasi di bidang pendidikan bagaimana membuat perguruan tinggi di Asean terintegrasi terpadu yaitu mempunyai program yang sama.

“Di tahun 2016 nanti mahasiswa di Asean yang telah lulus dari pendidikan tinggi, hraus dibekali dengan sertifikasi. Jadi begitu tamat tidak hanya menerima ijazah tapi juga sudah diketahui apa keahlian yang dikuasainya melalui sertifikasi tersebut,” tegasnya.

Seminar nasional dibuka oleh Rektor ITM Dr Ir Mahrizal Masri MT, yang dalam kesempatan tersebut berharap agar para peserta seminar dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan sungguh-sungguh sehingga kelak dapat menjadi bekal dalam menghadapi MEA yang sudah di ambang pintu. (sah/sdf)



loading...

Feeds