Tiga Tahun Wisata Danau Toba Bisa Menyala, Ini Saran Rhenald Kasali

Rhenald Kasali

Rhenald Kasali

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pengamat Ekonomi yang juga Komisaris Utama PT Angkasa Pura II Rhenald Kasali optimis, kawasan wisata Danau Toba bakal segera “menyala” dalam waktu cepat. Dia mengamati totalitas perhatian pemerintah dari berbagai lini dan keseriusan melakukan terobosan percepatan untuk wisata Danau Toba.

“Hitungan saya, tiga tahun sudah bisa running,” jawab Rhenald Kasali di Bandara Silangit, 22 Maret 2016.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengejar percepatan itu? Tahap awal ini sudah on track, membereskan infrastruktur yang menjadi kendala akses menuju ke Toba. Perpanjangan landasan Silangit Airport, dari 2.400 meter menjadi 2.650 meter, lalu lebar dari 30 meter ke 45 meter. Dimensi Apron menjadi 140 x 300 meter persegi, mampu menampung 4 aircraft, pesawat berbadan lebar Boing 737-500.

Perbaiakan terminal penumpang, dari 500 meter persegi ke 1.706 meter persegi, parkir menjadi 5.000 meter persegi, power house menjadi 240 meter persegi. Tetapi desain semua bangunan dan ornamenya tetap menggunakan pola budaya Batak, dengan bentuk mirip segitiga sama kaki. Dominasi warna merah, hitam dan putih.

“Tapi ingat, ini baru aksesibilitas lho ya? Atraksinya juga harus dibangun dan dirancang dengan baik,” jelas Rhenald.

Alam Danau Toba memang indah, semua orang mengakui itu. Tetapi mengandalkan keindahan danau dan panorama alam saja tidak cukup untuk menarik wisatawan. Harus lebih kreatif, melibatkan masyarakat, dan unik.

“Misalnya, ada unsur menanam pohon di bukit-bukit yang botak. Experience di homestay penduduk, agar menangkap local culture di sana. Itu jauh lebih bermakna dalam menjual pariwisata Danau Toba,” ungkap pengajar UI itu.

Soal culture, Rhenald tidak begitu khawatir. Banyak penyanyi, pemusik, komposer, yang terlahir di tanah Batak. Mereka dikaruniai kelebihan suara yang merdu. Tarian dan kesenian lain juga cukup atraktif, dengan music tradisional yang membuat orang bisa bergoyang.

“Kesenian rakyat dan budaya turun-temurun itu harus dipelihara dan dihidupkan lagi,” ungkap Rhenald Kasali.



loading...

Feeds