10 Fakta di Balik Kehebohan Mie Bikini

Mie Bikini

Mie Bikini

POJOKSUMUT.com, JAKARTA – Kehadiran mie instan bermerek mie Bikini, bihun kekinian dengan tagline ‘remas aku’ cukup meresahkan masyarakat belakangan ini. Pasalnya, selain namanya, kemasan mie instan itu juga dinilai mengandung ilustrasi pornografi.

Sabtu lalu, (6/8), Kepolisian Resort Kota Depok Jawa Barat menggerebek rumah tempat pembuatan mie Bikini dan menangkap perempuan muda yang diduga pembuat mie kontaversial tersebut.

Berikut 10 fakta yang dirangkum pojoksatu terkait pembuatan mie Bikini:

1. Pembuatnya mahasiswa berjilbab

Meski tampilan kemasan mie Bikini terbilang seronok dan mengandung muatan pornografi, namun siapa sangka, sosok di balik pembuatan mie tersebut adalah remaja berjilbab yang masih 19 tahun dan tengah kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Namanya Pratiwi, biasa dipngil Tiwi.

2. Dibuat di rumah pribadi

Pembuatan mie Bikini yang kontroversi ini ternyata dibuat di rumah pribadi di Jalan Muchtar, Gang Masjid, RT 1/8, Nomor 44, Kelurahan Sawangan Baru, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Proses pembuatannya pun hanya menggunakan peralatan sederhana.

3. Dibuat dengan alat sederhana

Tak ada yang membuat mie Bikini buatan Tiwi spesial, kecuali nama dan gambar pada kemasannya. Tiwi membuat mie kontoversi tersebut dengan peralatan sederhana. Dari hasil penggerebekan, diamankan barang bukti berupa produk jadi Snack Bikini sebanyak 144 bungkus, kemasan primer Snack Bikini sebanyak 3.900 lembar, bumbu-bumbu 15 bungkus, bahan baku bihun sebanyak 40 bungkus. Kemudian disita juga peralatan produksi berupa kompor, wajan dan lainnya.

3. Kenapa namanya harus Bikini?

Satu-satunya alsan Tiwi dalam membuat mie Bikini adalah untuk memberi terobosan dan sesuatu yang beda dari biasanya. “Dia bilang ini tugas makalah kuliah, jadi harus ada terobosan baru,” kata Syaiful, penjaga rumah Tiwi.

4. Penjualannya secara online

Alasan Tiwi membuat satu terobosan, salah satu caranya dengan menjual produk mie Bikini dengan cara online, seperti yang dilakukan banyak pedagang belakangan ini. Tapi, kalau diperhatikan, baru Tiwi mungkin yang menjual mie secara online dengan harga Rp15 ribu per bungkus.

5. Target pembelinya orang dewasa

Kekhawatiran orang tua kebanyakan atas gambar dan nama mie Bikini terjawab oleh Tiwi. Menurutnya, seperti disampaikan Wakil Kepala Satreskrim Polresta Depok, Ajun Komisaris Firdaus usai menginterogasi Tiwi Sabtu sore usai penggerebekan, mie tersebut dijual khusus untuk orang dewasa. Makanya, harganya pun lumayan mahal, Rp15 ribu per bungkus.

6. Mie Bikini jelas ilegal

Mie buatan Tiwi jelas ilegal. Secara perizinan untuk kebutuhan perdagangan, Tiwi memang tidak mengurusnya, karena menurut Tiwi itu adalah tugas kuliah. Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung Abdul Rahim pun memastikan cemilan tersebut jelas ilegal.

“Camilan bikini ini jelas ilegal karena tak ada izin selama ini. Selain MD yang tak jelas, juga tak ada izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan yang artinya makanan ini tak layak diperjualbelikan. Kita tidak mungkin dong mengeluarkan izin kalau kemasannya seperti itu.” kata Rahim beberapa waktu lalu.

7. Label halal itu juga palsu

Selain tidak mengurus izin dari pihak berwenang, seperti izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan, mie Bikini buatan Tiwi telah melakukan penipuan publik. Sebab label halal yang ada pada sudut kiri kemasan, dipastikan hanya dibuat sendiri tanpa melalui proses perizinan.

“Label halal itu mah buat sendiri. Kami sudah menelusuri,” kata Rahim.

8. Tiwi jamin produknya halal

Melalui surat yang ditulis Tiwi kepada media, Sabtu (7/8) ia menyampaikan bahwa bahan-bahan dari mie Bikini berasal dari baha-bahan yang dijamin kesehatan dan kehalalalannya. Hanya saja, Tiwi mengaku belum mendaftar dan membuat izin kepada lembaga resmi seperti MUI atau BPOM.

9. Kenapa gambarnya harus seronok

Selain soal nama, gambar pada Mie Bikini juga paling dikecam karena dianggap bermuatan pornografi. Namun Tiwi punya alasan.

“Untuk gambar karena namanya bikini kita berpikir gambar dan design yang pas juga sesuai dengan namanya, di situ kami juga memasukkan gambar mie yang sedang di pegang itu, dan slogan “remas aku” diberikan oleh guru saya yang juga mengajarkan untuk marketing dan AIDA nya,” ujar Tiwi dalam suratnya.

10. Bagi Tiwi, produknya tidak mengandung unsur pornografi

“Awal dibuat “Bikini” itu nyeplos saja dari singkatan “Bihun KeKINIan”, design tidak ada terpikirpun sekalipun kalau itu pornografi, karena saya dan teman2 berpikir kalau bikini itu baju renang, jadi tidak menyangka kalau namanya dipikir tidak senonoh.” Demikian petikan surat Tiwi yang diberikan kepada media.

(ril/pojoksatu/sdf)



loading...

Feeds