Gawat, Harga Minyak Goreng Bakal Naik Jadi Segini

Minyak goreng bakal naik

Minyak goreng bakal naik

POJOKSUMUT.com, MEDAN – Harga minyak goreng diperkirakan akan menyentuh Rp11.000 per liter di tingkat konsumen dalam 1 atau 2 hari mendatang.

Pasalnya, sejauh ini sejumlah distributor telah menaikkan harga jualnya, sehingga di tingkat pengecer harga minyak goreng bisa naik Rp300 hingga Rp500 per kg-nya.

Ekonom Sumut Gunawan Benjamin mengungkapkan, tren kenaikan harga CPO memang terjadi dalam sepekan terakhir. Meskipun, dinilai kenaikan harga minyak goreng ini justru terjadi di saat tekanan terhadap harga CPO masih cukup tinggi.

“Secara fundamental saya menilai harga CPO hanya mengalami fluktuasi harga yang biasa saja. Artinya volatilitas pada harga minyak goreng saat ini masih dalam bentuk fluktuasi harga minyak dalam jangka pendek.”

“Selama tidak ada kenaikan tajam pada harga CPO, saya pikir tidak ada alasan bagi minyak goreng untuk naik secara tajam,” ungkapnya, Rabu (10/8).

Kata Gunawan, sejumlah isu yang berkembang memang cukup rasional. Seperti, isu produktifitas sawit yang menurun ditambah data kenaikan harga CPO dalam sepekan terakhir yang naik 100 Ringgit lebih per tonnya. Namun, belum ada jaminan bahwa harga CPO akan konsisten naik dalam jangka panjang.

Jika melihat siklus produksi yang memang mengalami penurunan, maka ada musimnya dan tidak akan bertahan lama.

“Sementara itu, tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia ditambah dengan penyerapan CPO yang stagnan, membuat ekspektasi kenaikan harga CPO kecil sekali akan terjadi dalam waktu dekat,” ungkap praktisi ekonomi dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) di Sumut ini.

Walau demikian, sambung Gunawan, gejolak kenaikan harga saat ini tidak seharusnya luput dari pantauan pemerintah. Oleh karenanya, lakukan inspeksi untuk mencari tahu kenapa harga minyak goreng ini mengalami kenaikan.

Sebab, pengalaman menunjukan bahwa disaat harga CPO naik ataupun turun, harga minyak goreng tetap membentuk tren naik.

“Ada suatu hal yang tidak lazim menurut saya yang dihembuskan ke pedagang-pedagang kita. Dimana kecenderungan harga suatu komoditas pangan mau naik terlebih dahulu dihembuskan.”

“Artinya, ini membentuk sebuah ekspektasi bukan dikarenakan masalah persediaan ataupun permintaan,” jelas dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini.

Menurut Gunawan, lazimnya harga barang itu terbentuk jika terjadi tarik-menarik antara permintaan dan penawaran. Titik keseimbangan itu yang membentuk harga barang. Namun, ini aneh jika potensi harga barang naik dihembuskan terlebih dahulu. Pedagang kerap mendapatkan info dalam waktu dekat harga barang tertentu akan naik.

Jika referensi harga ke depan tersebut merupakan buah dari perhitungan estimasi sisi pasokan masa depan dari produsen, maka sebenarnya kabar potensi kenaikan harga tersebut memang mencerminkan kondisi sisi pasokan yang akan terganggu.

“Akan tetapi, jika ini merupakan ulah dari pihak tertentu yang menguasai sisi hulu dan jalur logistik, ini jelas sebuah upaya untuk meraup keuntungan dengan melemparkan isu secara serampangan,” cetusnya.

Diutarakan Gunawan, dari pantauan harga yang dilakukan pihaknya, sejumlah pedagang maupun distributor menyatakan bahwa harga minyak goreng berpeluang akan naik. Tidak spesifik memang kapan harga itu akan naik. Namun, beberapa isu yang berkembang adalah dikarenakan musim tren produktifitas sawit menurun.

“Ini bertolak belakang dengan kinerja harga CPO yang akhir-akhir ini pada dasarnya masih bertahan di harga yang rendah. Meskipun dalam kurun waktu sebulan terakhir CPO kinerjanya terus mengalami kenaikan.”

“Realitas di pasar juga demikian, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan paling besar Rp500 per kg dalam kurun waktu 6 pekan terakhir,” paparnya.

Dia menambahkan, memang dalam sebulan terakhir harga CPO naik dari kisaran $487 per tonnya saat ini bertahan di atas $530 per tonnya. Akan tetapi, kabar kenaikan harga CPO ini tidak semestinya langsung direspon oleh kenaikan harga minyak goreng di lapangan.

Faktanya dalam dua tahun terkahir harga CPO masih tidak jauh dengan harga dua tahun silam.

Meski demikian, faktanya harga minyak goreng dua tahun lalu sekitar Rp8.500 per kg. Namun, saat ini bertengger dikisaran Rp9.350 per kg untuk minyak curah. Untuk itu, fakta justru berbicara bahwa harga minyak goreng naik tidak jauh dari kenaikan laju inflasi.

Masyarakat atau pedagang sebaiknya tidak terlalu panik dengan hembusan kemungkinan kenaikan harga dalam waktu dekat ini.

“Diharapkan pemerintah sebaiknya terus berada di pasar, untuk memastikan bahwa tidak ada permainan dari sejumlah spekulan, baik itu produsen maupun distributor,” tukasnya.

(fir/pojoksumut/sdf)



loading...

Feeds