Miris! Bocah SD Ini Dibujuk Rayu, Lalu Disetubuhi Dua Sopir Angkot

Korban kejahatan seksual dua sopir di Padangsidimpuan.
foto : samman pohan/metrotabagsel/jpg

Korban kejahatan seksual dua sopir di Padangsidimpuan. foto : samman pohan/metrotabagsel/jpg

POJOKSUMUT.com, SIDIMPUAN-Miris sekali kisah hidup murid SD kelas VI berinisial S. Dia menjadi korban pelecehan seksual dua sopir angkot di Padangsidimpuan.

Hal itu terungkap setelah korban yang berusia 13 tahun itu, tidak pulang ke rumah sejak Minggu (7/8/2016) hingga Senin (8/8/2016). Dan, begitu pulang ke rumah pada Senin pagi, kedua orang tua S langsung menginterogasi. Akhirnya, diketahui korban seharian bersama A (24).

Selanjutnya, orang tua korban yang tinggal di salah satu kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan melaporkan perbuatan yang menimpa anak pertama mereka ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Mapolres Kota Padangsidimpuan.

Kasat Reserse Kriminal AKPP DB Diriono SH melalui Kanit PPA Iptu Maria Marpaung, Selasa (9/8/2016) kepada Metro Tabagsel (grup pojoksumut.com) menerangkan, perbuatan pelecehan seksual terhadap korban sudah berlangsung sejak satu tahun lalu.

“Jadi begini, dia (korban) ini awalnya berteman sama supir angkot berinisial E dari kelas lima SD. Jadi dibawa E anak ini jalan­jalan. Awalnya menemani mencuci mobil. Selesai dicuci, mobil disimpan di gudang. Pertama sekali kejadian di dalam mobil,” terang kanit menjelaskan pelaku E adalah seorang supir berusia 40 tahun.

Pada saat itu, pelaku E merayu korban dengan harapan pertanggungjawaban jika korban hamil di kemudian hari.

“Gak usah kau takut, dibilangnya sama korban. Saya akan tanggung apapun perbuatanku ini. Terus itu yang pertama di mobil. Kedua, lain orang. Yakni, pelaku A (24). Awalnya, Minggu S diajak A jalan­jalan untuk membawa penumpang. Dia tidak pulang dari hari Minggu. Baru pulang pada Senin pagi. Jadi malam Senin itu kejadiannya. Hari Minggu malam dia diajak untuk mengantar penumpang yang rombongan ke Aek Sijorni,” jelas Iptu Maria.

Karena sudah kemalaman, pelaku A mengajak korban yang dalam keadaan takut, bermalam di gubuk persawahan di Sihitang, Kecamatan Padangasidimpuan Tenggara. Di gubuk tersebut, pelaku melancarkan aksinya menyetubuhi korban.

“Dari situ pulang sudah jam 9 malam. Dia takut pulang ke rumah. Jadi, mereka turun di Sihitang, Padangsidimpuan Tenggara, tepatnya di pondok­pondok areal persawahan. Di situlah kejadiannya. Sebelum (pelaku) melakukannya, dia bilang pokoknya aku bertanggungjawab,” runut Maria yang mendengar kesaksian korban.

“Pelaku pertama sama yang kedua, berteman. Karena pelaku pertama sudah punya istri, dia bercerita sama temannya, dipacari kawannya lagi, akhirnya juga terjadi,” tandasnya menerangkan ancaman hukuman yang didapat para pelaku sampai 15 tahun penjara.

Sementara ayah korban, tak dapat bercerita banyak. Ia hanya terdiam mendampingi petugas kepolisian menciduk para pelaku yang sudah dikenalinya itu. (mag 01/mtbg/jpg/nin)



loading...

Feeds