Siswi SMAN 3 Tanjungbalai yang Tewas Mengenaskan Itu Diduga Korban Trafficking

Warga dan teman korban mengantarkan jenazah DNA ke pemakaman.
foto : metroasahan/jpg

Warga dan teman korban mengantarkan jenazah DNA ke pemakaman. foto : metroasahan/jpg

POJOKSUMUT.com, TANJUNGBALAI-Tewasnya DNA (16) siswi SMAN 3 Tanjungbalai usai menghadiri pesta ulang tahun, Sabtu (6/8/2016) lalu, masih menyisakan kerugiaan besar bagi keluarga dan pihak tempat korban sekolah. Ini terkait pernyataan IP, rekan korban yang mengantarkan DNA ke keluarga dalam kondisi mulut berbuih.

Alasanya kecurigaan tersebut, karena keterangan yang diberikan IP berbeda dengan keteranganya kepada keluarga korban dan pihak kepolisian. Kepada keluarga korban, guru mereka di sekolah dan teman-teman sekolah, IP mengaku melihat DNA dalam kondisi sakit dibawa dua pria. Oleh kedua pria tersebut, IP disuruh membawa DE ke rumah sakit untuk berobat.

Baca Juga : Siswi SMAN3 Tanjungbalai Tewas dengan Mulut Berbuih Usai Menghadiri Acara Ulang Tahun
Juga Baca : TEGA! Satpam Hotel Ternyata Sempat Perkosa Siswi SMAN 3 Tanjungbalai Itu Sebelum Tewas

Sementara kepada polisi IP mengaku ikut dalam acara pesta ulang tahun teman mereka di Hotel KM 7 di Jalan Sudirman sambil karokean. “Kok keterangan si IP itu beda sama kami dan polisi,” ucap Asmidar (41)  ibu kandung DNA. Bahkan, Asmida, ibu kandung korban mengaku curiga dengan kematian anaknya yang selama ini dikenal berperilaku cukup baik.

Hal yang sama juga diakui oleh para guru dan rekan-rekan korban di SMAN 3 Tanjungbalai.  Selama ini, korban dikenal berperilaku yang cukup baik dan sopan, walaupun nilai pendidikannya tergolong biasa-biasa saja. Bahkan, setiap harinya di sekolah, korban sangat rajin beribadah.

”Makanya begitu, mendengar kabar tentang kematiannya yang mendadak dan tragis itu, kami semua sangat terkejut. Soalnya, selama belajar di sekolah ini, korban tidak pernah cabut atau bolos sekolah maupun membuat hal-hal yang bertentangan dengan peraturan sekolah,” ujar Kepala Sekolah SMAN-3 Tanjungbalai Syawaluddin kepada wartawan Senin (8/8/2016).

Namun, saat wartawan mempertanyakan tentang perilaku dari IP (17), teman korban sebelum meregang nyawa, Syawaluddin langsung menggelengkan kepala. Katanya, walaupun mereka satu kelas, namun perilaku korban dengan temannya IP tersebut, sangat bertolak belakang.

“Setahu kami selama ini, walaupun mereka satu kelas, korban dengan IP itu tidak akrab. Makanya, pada hari Jumat, yakni sehari sebelum korban meninggal dunia itu, kawan-kawannya heran saat melihat korban bisa pulang sekolah bersama IP dengan naik sepedamotor milik IP. Karena mereka tidak pernah akrab,” ucap Syawaluddin.

Hal serupa juga diakui oleh guru-guru maupun rekan-rekan sekelas korban yang minta nama mereka tidak disebutkan. Katanya, pada hari Jumat itu, korban diantarkan IP ke rumah nenek korban di kawasan Jalan Amanah, Kelurahan Pantai Burung, Tanjungbalai, karena korban sudah lama tinggal bersama neneknya tersebut.

Karena ini juga tercuat dugaan korban merupakan korban trafficking yang dijembatani IP. “Pada hari Jumat sore, kami melihat korban dan IP dijemput dua orang pemuda dari depan Salon Alvira di Jalan Sudirman, Tanjungbalai. Kami tidak tahu kemana tujuan mereka, keesokan harinya (Sabtu-red), kami sudah mendengar kabar, korban meninggal dunia dengan tidak wajar,” ujar beberapa orang rekan sekolah korban di SMAN-3 Tanjungbalai.

Anehnya, mereka langsung tertawa pada saat koran ini mencoba menjelaskan bahwa IP mengaku bertemu korban dalam kondisi sekarat di kawasan Jalan Anwar Idris, Tanjungbalai. “Kami melihat langsung, mereka berangkat bersama dari depan Salon Alvira bersama dengan dua orang pria,” ujar salah seorang pelajar SMAN 3 tersebut memastikan keterangan IP bohong. (ck-5/syaf/MA/jpg/nin)



loading...

Feeds