Kisah Sherly, Korban Pernikahan Palsu di Beijing, Disiksa Keluarga Mertua Bohongan

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKSUMUT.com, MEMPAWAH-Tragis sekali yang harus dialami Sherly Nurulita (20) warga RT 11/RW 06 Desa Peniram, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Diiming-imingi harta dan perhiasan, perempuan tersebut kemudian dinikahkan dengan warga Tiongkok melalui perantara. Alih-alih mendapatkan kehidupan rumah tangga bahagia, korban malah dijadikan pembantu dan kerap dipukuli.

Kasus yang dialami anak ketiga dari delapan bersaudara itu bermula pada awal April 2016 silam. Ketika itu AK, seorang jaringan mak comblang yang diduga sindikat perkawinan palsu, menyambangi kediaman keluarga korban.

Kondisi perekonomian keluarga yang sangat memprihatinkan menjadi sasaran empuk sindikat ini, untuk menjebak korbannya. Apalagi, ketika itu orang tua korban sedang sakit parah. Ibunya harus mendapatkan perawatan dokter, sedangkan bapaknya terkena serangan stroke.

AK pun datang membawa tawaran menikahkan Sherly dengan seorang warga Beijing, Tiongkok. Iming-iming kehidupan bahagia dengan limpahan harta pun dijanjikan sebagai garansi.

Sherly pun tak kuasa menolak. Dia tak tega melihat kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya. Dia berharap kalau sudah menikah nanti, bisa mengangkat derajat keluarganya dari kemiskinan. Kesepakatan pun dilakukan. Sherly mendapat uang tunai Rp20 juta dari AK setelah melaporkan kepada bosnya LL, warga Kota Pontianak.

Setelah segala administrasi keberangkatan dilengkapi, Sherly pun bersiap menemui suaminya di Beijing. Untuk meyakinkan Sherly dan keluarganya, Suryanto selaku abang, difasilitasi untuk ikut mengantarkan adiknya ke Beijing.

Suryanto pun memastikan Sherly mendapatkan penyambutan dan perlakukan baik dari pihak keluarga suaminya. Bahkan, dua minggu kemudian dilangsungkan pesta pernikahan di Beijing. Namun, belakangan diketahui dari sumber terpercaya kalau tidak pernah dilakukan pernikahan, melainkan hanya acara makan-makan biasa.

Suryanto pun kemudian pulang ke tanah air setelah memastikan adiknya mendapatkan pria yang tepat. Dari situlah, petaka dialami Sherly. Setelah dia seorang diri di Beijing, suami dan keluarganya berlaku kasar. Sherly dijadikan pembantu dan kerap mendapatkan pelakukan kasar dengan dipukuli bahkan ditendang.

Tak tahan dengan perlakuan kasar yang terus menerus dialaminya, Sherly pun berusaha menghubungi keluarganya di Sungai Pinyuh. Dari komunikasi itulah akhirnya pihak keluarga membuat laporan polisi. Laporan tersebut kemudian disampaikan kepada Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Mempawah.

Ketua SBMI, Mahadir pun merespons cepat laporan tersebut. SBMI berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya seperti Dewan Pimpinan Nasional (DPN) SBMI di Jakarta maupun di luar negeri.



loading...

Feeds