Polisi Masih Kesulitan Tangkap Pembunuh Siswi SMP Barlind School

Kondisi siswi SMP  Barlind School yang ditemukan tewas mengenaskan. | pojoksumut

Kondisi siswi SMP Barlind School yang ditemukan tewas mengenaskan. | pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN- Pembunuhan sadis dengan korban SMP Bharlin School Sandra Yolanda Duha (15) menuju babak baru.

Polisi terus berusaha membongkar motif hingga mencari tersangka pembunuhan tersebut. Seorang anak berusia empat belas tahun yang merupakan rekan Yolanda pun diperiksa.

Bocah yang dimaksud adalah Frans Marpaung. Dia warga Simpang Gardu, Kecamatan Pancurbatu. Frans merupakan teman main Yolanda di lingkunganya.

Saat diperiksa, Frans langsung melawan. Baginya, sangat tidak mungkin kalau dia membunuh Yolanda. “Kalo memang ada aku membunuhnya, bapak tembak mati saja aku, biar aku pun masuk surga,” ujar Frans di Polsek Delitua.

Frans didampingi ibu, nenek, serta kakak sulungnya. Ompung Frans, boru Sianturi, pun sangat menyesalkan apa yang dilakukan pihak kepolisian karena menodong pistol di pinggang cucunya tersebut.

“Aku gak terimalah pinggang pahopuku ditodong pistol sama polisi,” kata Ompung Frans

Ibu Frans, Boru Sianturi (45), pun sampai tak habis pikir dengan pemeriksaan anaknya itu. “Anakku salah apa? Katanya mau dipulangkan tadi malam (Sabtu malam, Red), sampek hari ginipun (kemarin, Red) belum bisa pulang,” beber Boru Sianturi dengan wajah memelas.

Namun, keresahan Boru Sianturi akhirnya terbalas. Kemarin, anaknya diperbolehkan pulang oleh polisi. Kondisi yang dialami juga oleh dua saksi lainnya. Pertama penarik becak motor bernama Budi (33).

Warga Simpang Gardu diperiksa karena sering mangkal di SImpang Gardu dan sempat melihat korban pergi sekolah. “Aku lihat Yolanda itu pergi sekolah bang, kutengok dia ada nelpon di seberang jalan bang” ujar Budi.

Saksi ketiga, yang persis dengan Frans dan Budi, adalah Roni (48). Warga Simpang Gardu juga. Ketiganya diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan dari Sabtu (13/8) sore sampai Minggu (14/8) pagi.

Hal berbeda dialami Ben Tarigan (42). Warga Simpang Gardu yang sehari-hari menjadi sopir Angkot 103 Rahayu, harus menginap di Polsek Delitua.

Dia mulai diperiksa pada Minggu (14/8) pukul 15.00 WIB. Ben diperiksa sebagai saksi karena diketahui telah membawa korban diangkotnya sampai di depan sekolah Bharlin School sebelum korban terbunuh sadis.

“Aku lagi bawa angkot bang, polisi datang membawa aku untuk diperiksa karena kasus pembunuhan ini,” terang Ben di Polsek Delitua. Tak ada informasi lain yang berhasil dikorek dari sopir yang dikenal ibu korban itu.

Kanit Reskrim Iptu Jonathan tak membantah telah memeriksa saksi- aksi itu. Namun, belum ada titik terang soal pembunuhan sadis tersebut. “Sudah 4 orang kita periksa yang dimintai keterangannya. Status mereka masih sebagai saksi,” kata Jonathan singkat.



loading...

Feeds