71 Tahun Lalu, pada Suatu Malam di Rumah Bung Karno

Bung Karno dan Agus Salim saat diasingkan ke Danau Toba 1948 silam.

Bung Karno dan Agus Salim saat diasingkan ke Danau Toba 1948 silam.

POJOKSUMUT.com, PEGANGSAAN Timur 56 Jakarta. Pukul 10 malam. Sebuah sekuel bersejarah di rumah Bung Karno.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

Soekarno dan Sayuti Melik sedang merundingkan persiapan-persiapan menuju kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang dijanjikan Jepang, ketika sejumlah pemuda datang bertamu.

Wikana, pimpinan pemuda-pemuda tersebut langsung masuk ke pokok persoalan.

“Sekarang, Bung!” tandasnya. “Sekarang! Malam ini juga kita kobarkan revolusi yang meluas. Kita mempunyai pasukan PETA, pasukan pemuda, Barisan Pelopor, bahkan Heiho sudah siap.”

Belum lagi Bung Karno menjawab, pemuda 31 tahun itu kembali menyambung pinta. “Dengan satu isyarat Bung Karno, seluruh Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia akan mengepung kota. Menjalankan revolusi bersenjata yang akan menjungkirkan tentara Jepang.”

Situasi memang genting. Tapi, Bung Karno yang kala itu berumur 46 tahun tetap tenang. Sembari berusaha mengendalikan para pemuda itu, perlahan dia menjawab…

“Saya tahu bahwa engkau semua mengadakan rapat-rapat rahasia selama ini. Akan tetapi kalian tidak kompak. Tidak ada persatuan di antaramu semua. Ada golongan kiri, ada golongan Sjahrir, ada golongan intelektuil. Semua itu membikin keputusan sendiri-sendiri terlepas dari yang lain.”

Wikana tetap pada pendiriannya. “Kita harus merebut kekuasaan di saat Jepang sedang dalam keadaan kebingungan…dia sudah kalah. Sebelum ada rencana konkret, kita harus bertindak di luar dugaannya.”

“…tentu kita akan tetap merdeka. Karena soal ini sekarang menunggu waktunya saja. Sebab, segala persediaan sesuatunya sudah hampir selesai,” sahut Bung Karno.

“Apakah kita harus menunggu kemerdekaan itu dihadiahkan kepada kita, sedang Jepang sendiri sudah menyerah kalah dalam perang sucinya…” perutusan pemuda itu menimpali.

Ini membuat Bung Karno kesal. “Ya, kita harus menunggu dahulu.”

Wikana memburu dengan pertanyaan-pertanyaan. “Mengapa tidak rakyat kita sendiri yang menyatakan kemerdekaan kita itu? Mengapa bukan rakyat kita yang memproklamasikan kemerdekaan kita itu?”

Habis sabar, nada suara Bung Karno pun meninggi.

Sekuel di atas dinarasikan berdasarkan kesaksian Subadio Sastrosatomo–saksi mata ketika para pemuda mendatangi Soekarno dan memaksanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, 15 Agustus 1945 malam.

Subadio pernah diwawancarai J. Tuk Suprapto. Dan ulasannya dimuat Sinar Harapan edisi 18 Agustus 1970.

Sementara itu di Kebon Sirih 80, Jakarta–markas rahasia Daisanka… (berdasarkan catatan Entol Chaerudin)

Telepon berdering. Untuk Kepala Kepala Daisanka, Tomegoro Yoshizumi. Seseorang dari rumah Bung Karno mengabarkan Bung Karno tidak aman.

“Tuan Yoshizumi segera mengutus sdr. Djojopranoto menuju Pegangsaan Timur 56 untuk menenangkan Sdr. Wikana. Dia berangkat bersama seseorang yang saya lupa namanya,” kenang Entol Chaerudin yang malam itu berada di Kebon Sirih 80.

Di rumah Bung Karno…

Perdebatan masih berlangsung sengit antara Bung Karno dengan para pimpinan pemuda ketika Bung Hatta, Soebardjo, Buntaran dan pemimpin-pemimpin lain mulai berdatangan. –bersambung



loading...

Feeds