Wow! Lihat Nih Empat Kardus Isinya Uang Rp 6,1 Miliar, Hasil Pungli di Pelabuhan

 Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin (pegang mik) menunjukkan uang sebanyak Rp 6,1 miliar dan sejumlah dokumen koperasi TKBM Komura, Samarinda, yang disita petugas terkait OTT di Pelabuhan Palaran, kemarin.
foto : prokal.co/jpg

Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin (pegang mik) menunjukkan uang sebanyak Rp 6,1 miliar dan sejumlah dokumen koperasi TKBM Komura, Samarinda, yang disita petugas terkait OTT di Pelabuhan Palaran, kemarin. foto : prokal.co/jpg

POJOKSUMUT.com, SAMARINDA-Tangkapan super besar atas tindakan kejahatan pungutan liar (pungli) terjadi Samarinda, kemarin (17/3/2017).

Ini setelah Tim Sapu Bersih Pungli (Saber Pungli) Mabes Polri dan Polda Kaltim melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di tiga lokasi berbeda, dari pukul 09.00–12.00 Wita.

Hasilnya, Rp6,1 miliar dan barang bukti lainnya disita petugas. Sebanyak 15 staf pegawai di Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Samudera Sejahtera (Komura) dan 10 orang dari Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu (PDIB) dimintai keterangan.

Pantauan Kaltim Post (grup pojoksumut) kemarin pagi, awalnya iring-iringan mobil tim gabungan Saber Pungli masuk ke kawasan jalur peti kemas di Pelabuhan Palaran, Samarinda.
Dari sana, petugas menemukan kejanggalan dengan adanya keterlibatan sekelompok orang yang melakukan pemungutan atas nama Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu (PDIB) Samarinda. Bahkan, spanduk kuning bertuliskan surat keputusan (SK) Wali Kota Samarinda Nomor 551.21/083/HK-KS/11/2016 dijadikan landasan untuk menarik retribusi dan tarif parkir. Tarifnya Rp 20 ribu setiap kendaraan.

“Itu baru disahkan Wali Kota Samarinda bulan November 2016,” ujar Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin.

Sebelum ada OTT, sejumlah laporan keresahan pengguna jasa bongkar-muat barang di Pelabuhan Peti Kemas Palaran masuk ke meja polisi di Ditkrimsus Polda Kaltim dan Bareskrim Mabes Polri.

Jenderal polisi bintang dua itu menjelaskan, biaya jasa bongkar-muat di Samarinda terlalu tinggi. Dibandingkan dengan Surabaya, Kota Tepian mematok harga Rp180 ribu untuk kontainer 20 feet, dan Rp350 ribu untuk kontainer berukuran 40 feet. Jauh dibandingkan dengan Kota Pahlawan. Yakni, Rp 10 ribu per kontainer, baik feet berukuran 20 maupun 40. Tingginya biaya jasa tersebut membuat polisi mulai menyelidiki yang akhirnya melakukan pengungkapan. “Pelabuhan di Samarinda kan sudah menggunakan mesin, tapi masih diminta biaya buruh dengan cukup tinggi,” ungkap perwira lulusan Akpol 1984 itu.

Dalam perkara pungutan liar itu, tim gabungan menemukan sejumlah buruh yang menyebut jika mereka diakomodasi oleh salah satu koperasi.
“Mereka secara sepihak menerapkan tarif yang cukup tinggi,” ujar perwira tinggi mantan Wakabintelkam Mabes Polri tersebut. Secara perinci, ada biaya buruh pelabuhan yang disepakati dengan pengguna jasa.

Padahal, tidak melakukan aktivitas bongkar muat, tetapi meminta bayaran. Artinya, ada perampasan terorganisasi yang dilakukan. Dari kegiatan tersebut, petugas gabungan akhirnya mengarah ke koperasi yang dimaksud di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Samarinda Kota.

Menjelang tengah hari, pagar setinggi 2 meter di TKBM Samudera Sejahtera Komura Samarinda tertutup untuk umum. Sejumlah personel lengkap senjata menutup aktivitas di koperasi tersebut. Petugas gabungan yang melakukan pemeriksaan lantas menggeledah sejumlah ruangan. Termasuk ruang bendahara.

Di sana, Rp6,1 miliar yang diduga kuat hasil praktik pungli dari pelabuhan peti kemas di Palaran disita petugas.

Uang yang sudah diikat sedemikian rupa itu dipertunjukkan polisi kemarin, dalam kardus dan plastik. Terlihat uang yang dominan warna merah itu memenuhi empat kardus.



loading...

Feeds