Kisah Perjaka 24 Tahun Nikahi Janda 67 Tahun, Cinta pada Pandangan Pertama

Rokim dan Tampi
foto : Radar Madiun/JPG

Rokim dan Tampi foto : Radar Madiun/JPG

POJOKSUMUT.com, SOAL cinta dan hati kadang sulit ditebak. Bahkan acapkali melewati batas usia dan jarak. Seperti inilah kisah perjalanan hidup Rokim, perjaka 24 tahun, yang mempersunting Tampi, seorang janda 67 tahun.

—–

RANGKAIAN janur melengkung masih menghiasi halaman salah satu rumah di Dusun Petung, Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Selasa (21/3/2017). Nyiur muda yang mulai layu itu tetap lengkap dengan dua tandan pisang beserta jantungnya.

Itulah rumah pengantin baru Rokim dan Tampi. Rumah tersebut masih ramai. Para kerabat tengah bercengkerama di ruang tamu sembari menonton televisi. ”Baru sepasar (sepekan, Red) kami menikah,” ungkap Rokim dengan santai saat ditemui Radar Madiun. Mereka berdua menikah Rabu pekan lalu (15/3).

Pernikahan pemuda kelahiran Nganjuk, 10 Juli 1993, itu memang tak biasa. Sebab, mempelai perempuannya adalah Tampi, janda kelahiran Madiun pada 18 Januari 1950. Usia mereka terpaut 43 tahun.

Namun, perbedaan usia tak mengurangi kemesraan pengantin baru itu. Kemarin Rokim duduk dengan tangan merangkul istrinya. Pandangan matanya hangat saat melirik Tampi yang tak jarang menepuk-nepuk lengannya. ”Anak-anak kampung sini sering menggoda, wah manten anyar… manten anyar (pengantin baru, Red),” kata Rokim, lantas tertawa.

Jika ada yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama, Rokim adalah salah satunya. Pria asal Nganjuk itu mengaku menaruh hati kepada Tampi sejak kali pertama bertemu sepuluh tahun lalu. Awalnya, dia hanya bermain ke rumah temannya sesama pekerja bangunan di Surabaya yang kebetulan satu desa dengan Tampi yang berprofesi sebagai tukang pijat.

Untuk meredakan lelah, Rokim diantar oleh temannya ke rumah Tampi yang kala itu masih berusia 57 tahun. ”Pertama kali bertemu langsung suka. Yang ada di pikiran saya, suatu saat akan saya nikahi dia,’’ tutur dia, bersemangat.

Setelah dipijat, layaknya ABG yang sedang PDKT (alias pendekatan), Rokim dan Tampi bertukar nomor handphone. Dari situ, benih-benih cinta mulai tumbuh. SMS dan telepon menjadi penyubur benih-benih cinta itu. Rokim mengaku bahwa dirinyalah yang lebih sering menelepon Tampi.

Rasa lelah setelah seharian bekerja keras sebagai kuli bangunan pun langsung sirna saat mendengar suara pujaan hatinya. ”Tidak setiap hari memang. Tapi, saya selalu sempatkan untuk menelepon,” ucap Rokim.

Setiap kali pulang kampung ke Nganjuk, Rokim tak lupa mengunjungi Tampi di Madiun. Buah manggis, apel, dan salak kesukaan Tampi menjadi oleh-oleh wajib yang dia bawa. Rokim juga mengatakan bahwa Tampi adalah cinta pertamanya. Seumur hidupnya, Rokim memang belum pernah berpacaran dengan perempuan lain.

Karena itu, omongan sinis dan olok-olok sebagian teman tentang pacar tuanya tak dihiraukan oleh Rokim. ”Mau bagaimana lagi, wong sudah cinta,’’ ujarnya dengan mantap.

Layaknya dua insan yang dimabuk cinta, Rokim juga pernah mengajak Tampi berjalan-jalan sambil pacaran. Kebun Binatang Surabaya dan Taman Bungkul di Kota Pahlawan menjadi dua lokasi favorit mereka. Kenangan indah itu kian memupuk cinta keduanya.

Namun, meski sudah lama kenal dan jatuh hati, Rokim baru benar-benar memberanikan diri meminang Tampi belakangan ini. Awalnya, Tampi menganggap pinangan itu sebagai lelucon dan tak serius menanggapinya. Tapi, Rokim tak patah arang. Bagai pejuang cinta sejati, dia terus meyakinkan Tampi agar bersedia menerima pinangannya. ”Karena saya suka, saya cinta. Ini murni keinginan saya, bukan karena paksaan, apalagi ada maksud lain,’’ ucap Rokim.

Rokim sejak awal menyadari bahwa perbedaan usia keduanya bisa menjadi penghalang. Bahkan, ibunya pun lebih muda daripada Tampi. Rokim juga mengakui bahwa penampilan Tampi tak semenarik gadis-gadis muda lain yang ditemuinya di Surabaya atau Nganjuk, tempat asalnya. ”Tapi, saya tak peduli, namanya juga cinta,” ujarnya.



loading...

Feeds