Ya Ampun! Anak Tonjok Kepala Ibu Kandungnya, Gara-gara Jual BH Bekas

Nek Paerah dikunci anaknya di dalam rumah usai penganiayaan.
foto : prokal

Nek Paerah dikunci anaknya di dalam rumah usai penganiayaan. foto : prokal

Kepada petugas yang bertamu ke rumahnya, Yulianingsih mengeluhkan kebiasaan ibunya yang suka keluyuran keluar rumah. “Jagoan ngeluyur, heran aku, kenapa kok orang jago ngeluyur. Pokoknya kalau lengah, langsung ngeluyur, pernah aku ketiduran, langsung keluar,” katanya. Yulianingsih juga menceritakan, jika ibunya suka sekali menerima pemberian orang lain.

“Itu dikasih tas jelek dari orang, dia terima dan seneng sekali, jengkel kan! Pernah juga orang pas lagi duduk-duduk, langsung ibu berhenti terus mijetin orang itu. Jelas saya marah. Ibunya yang kumaki-maki, bukan aku jahat, tapi kan malu,” katanya. Yulianingsih juga membenarkan, jika ia menyuruh ibunya membersihkan lantai dan karena itulah, ia menggaji ibunya sebesar Rp200 ribu per bulannya.

Sementara Paerah, mengaku ingin pulang ke Surabaya. Di kota pahlawan itu ia ingin hidup tenang di rumah anaknya yang lain. “Saya dikira kayak orang gila, padahal saya nggak gila, anak saya yang gila,” kata Paerah. Paerah juga mengaku, ia seperti diperlakukan seperti pembantu di rumah anaknya. “Kalau saya bisa keluar saya mau lapor polisi,” ujarnya.

Terpisah, Tim Penjangkau LK3 Suyanti mengatakan, untuk kasus ini, LK3 akan lakukan pendampingan. “Kami akan lakukan pendampinngan, coba komunikasi ke neneknya juga. Dan kami akan lakukan komunikasi dengan pihak keluarga, apakah ada semacam rembuk keluarga, semua dari persetujuan keluarga, solusinya apakah masih mau merawat nenek, ataukah dibawa ke panti,” kata Suyanti.

Namun, semua itu, lanjut Suyanti, akan dibicarakan dengan pihak keluarga, mana solusi terbaik. Apabila benar-benar akan di bawa ke panti, LK3 akan mencari panti yang di dalam kota Bontang saja. “Tapi kalau pihak keluarga bisa membekup, ya silahkan,” ujar Suyanti.



loading...

Feeds