Praktisi Pendidikan Sumut : Soal Ujian Tak Boleh Tendensius

Ilustrasi UN. Hari ini hasil UN SMP diumukan

Ilustrasi UN. Hari ini hasil UN SMP diumukan

POJOKUSMUT.com, MEDAN-Adanya temuan naskah soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang terjadi pada Madrasah Tsanawiyah di Lamongan, Jawa Timur, dapat dijadikan bahan evaluasi. Pasalnya, dalam salah satu soal tersebut menggiring opini dan stigma negatif kepada agama Islam.

Praktisi pendidikan dari Lembaga Riset Publik (Larispa) Indonesia, M Rizal Hasibuan menilai, seharusnya dalam pembuatan soal ujian itu harus lepas dari tendensius politik, agama, suku, dan lain sebagainya. Melihat dari soal ujian itu, kalimatnya sudah menjustifikasi karena dari mana dasarnya menyatakan ada kelompok islam garis keras.

“Kita sangat menyayangkan soal itu bisa lolos ke tangan siswa, karena soal tersebut memberi penekanan negatif terhadap kelompok tertentu. Padahal, seharusnya siswa itu diajarkan terhadap soal yang menggambarkan toleransi dengan contoh-contoh yang tidak ada muatan tendensiusnya,” ungkapnya, Selasa (28/3/2017).

Menurut dia, naskah soal ujian sepatutnya dapat menggambarkan contoh kasus yang bermuara mendidik tetapi tidak memojokkan. Oleh karena itu, idealnya contoh kasus pada soal tersebut tidak ada. Sebab, masih banyak contoh kasus lainnya yang dapat dimuat dalam naskah soal ujian terkait pelanggaran pada pasal UUD 1945.

“Orang masih banyak yang berbeda pendapat dengan itu (islam garis keras, red). Kalau perbedaan itu dimuat dalam soal ujian, maka semakin membuka dan membentuk pemikiran siswa,” tutur Rizal.

Diutarakan dia, apabila ingin memberikan contoh kasus dalam soal ujian ada jenjang atau tahapan. Jadi, seharusnya soal seperti itu terletak pada bagian akhir.

“Soal-soal contoh kasus, selayaknya terletak pada bagian akhir bukan di tengah atau awal. Sebab, itu membutuhkan pemikiran siswa dalam menjawabnya,” cetus Rizal.

Hal senada diutarakan praktisi pendidikan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Mutsyuhito Solin. Dikatakan dia, soal seperti itu memang sangat tendensius dan juga sangat tidak cocok dimuat apalagi dalam naskah ujian.

“Soal itu menggambarkan sangat tidak akademis atau mendidik. Bahkan, bisa dibilang di bawah standar. Oleh sebab itu, sangat disesali bisa muncul di dalam naskah ujian,” ujar Mutsyuhito.



loading...

Feeds