Dukungan untuk Kinara, Balita yang Selamat dari Pembantaian di Mabar

Kelima korban di rumah duka, akan disemayakamkan hari ini, Senin (10/4/2017). Mereka adalah ibu, bapak, kakak dan abang serta nenek Kinara.

Kelima korban di rumah duka, akan disemayakamkan hari ini, Senin (10/4/2017). Mereka adalah ibu, bapak, kakak dan abang serta nenek Kinara.

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Namanya Kinara, sangat indah. Dalam bahasa Indonesia, beberapa merujuk pada arti ‘Titik Pertemuan’. Kinara kini sebatang kara, ibu, bapak, abang, kakak serta neneknya meregang nyawa dibantai para pelaku yang sedang diburu pihak berwajib.

Mengapa Kinara selamat? Ya Tuhan punya rencana lain. Ingin dia tumbuh besar, jadi jiwa yang kuat, meski fisiknya juga belum sembuh total. Matanya sebelah kiri bengkak membiru. Seperti ada kepalan tangan besar meninju wajahnya pada saat kejadian di rumah keluarganya di Jalan Rumah Potong Hewan/Kayu Putih, Lingkungan XI, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Minggu (9/4/2017) dini hari.

Belum lagi luka di kepala dan beberapa anggota tubuh lainnya. Hingga kini, Senin (10/4/2017), balita empat tahun itu masih menjalani perawatan di RS Mitra Medica.

Pasca-terjadinya peristiwa maut itu, warga dan petugas kepolisian menemukan Kinara dalam kondisi luka-luka, sembunyi di kolong tempat tidur di kamar utama. Sebelum keluarganya tewas, warga mengatakan kalau Riyanto memang sudah memperlihatkan gelagat aneh.

Dimana sepekan belakangan Riyanto terus bersama Kinara seolah tidak mau lepas, bahkan saat pengajian pun Riyanto membawa dan terus memangku Kinara. Bahkan, saban hari, ia rutin membawa putrinya jalan-jalan di seputaran rumah.

Kapolres Belawan, AKBP Yemi mengatakan pihaknya akan memberikan penanganan yang serius termasuk memberikan pemulihan psikis. Mengingat Kinara saksi kunci dalam kasus ini. “Kami akan mensterilisasi pengunjung yang ingin melihatnya di rumah sakit demi keamanan dan kenyamanannya,” ujarnya Senin (10/4/2017).

Sementara itu, di media sosial seperti Facebook, hastag #SaveKinara bermunculan. Publik sangat kasihan dengan nasib balita ini. Bahkan sebagian bersedia mengurusnya, jika tidak ada keluarganya lagi. (ring/nin/pojoksumut)



loading...

Feeds

Tak Terasa Padi Sudah 20 Tahun

Namun semua itu gagal. ’’Jalannya memang harus vakum, bukan mencari personil lain sebagai pengganti, atau bahkan bubar,’’ paparnya.