Kisah Nia, Mahasiswi Indonesia Dipaksa Lepaskan Jilbab Saat di Bandara Roma

Aghnia Adzkia (kiri), petugas bandara yang difotonya (kanan)

Aghnia Adzkia (kiri), petugas bandara yang difotonya (kanan)

POJOKSUMUT.com, NAMA Mahasiswi Goldsmith University London asal Indonesia, Aghnia Adzkia mendadak menjadi perbincangan media sosial. Tak hanya di media lokal, tapi juga Internasional.

Pasalnya, dia mengunggah video terkait pemeriksaan keamanan di Bandara Italia, di mana dirinya protes setelah petugas memintanya melepas jilbab.

Banyak pihak mem-bully Nia, namun tak sedikit pula memuji dan mendukung wanita 25 tahun itu. Terutama, teman-teman Nia saat menjadi jurnalis di Indonesia.

Aghnia menempuh pendidikan S2 Jurusan International Journalism di Goldsmiths University of London sejak pertengahan 2016 lalu. Dia menempuh pendidikan S1-nya di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.

Sejak menggeluti profesi jurnalis, Nia dikenal sebagai jurnalis muda berbakat. Dia dikenal kritis dan gigih dalam mendapatkan berita. Sejumlah penghargaan juga telah diraih Nia, salah satunya dari Kementerian Agama karena tulisannya soal peristiwa di Tolikara membawa pesan perdamaian.

Kejadian itu, tepatnya tanggal 10 April 2017 saat Nia-sapaan akrabnya-memposting pengalamannya di Bandara Ciampino, Roma itu. Dalam postingan di Facebook tersebut, Aghnia menulis kalau dia merasa mendapatkan perlakuan diskriminasi karena petugas bandara memintanya untuk melepas hijabnya.

Sementara, ada beberapa biarawati yang melewati pemeriksaan tersebut tanpa harus melakukan hal serupa. Berjudul I am a Muslim Hijabi, Not a Terrorist! Aghnia mengalami insiden itu sebelum naik pesawat ke London, Inggris.

Tetapi, saat melewati pemeriksaan, petugas keamanan memintanya untuk melepas hijab tersebut. Keributan pun tidak terhindarkan. Mahasiswa Universitas Goldsmith yang tinggal di London itu, berkali-kali meminta petugas bandara menunjukkan hukum yang menyebutkan kalau hijab harus dilepas saat pemeriksaan keamanan bandara.

Namun, petugas bersikukuh. Mereka mengatakan tidak akan mengizinkan Aghnia untuk lewat kecuali mematuhi aturan bandara. ”Anda bisa saja menyembunyikan sesuatu di rambut Anda. Jika Anda tidak melepasnya, kami tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Anda tidak aman bagi kami,” kata petugas perempuan tersebut.

Aghnia pun tetap menolak meski petugas memintanya untuk masuk ke ruang khusus sehingga dia bisa melakukan pemeriksaan dengan lebih privat. Ditambahkan Aghnia, karena penolakan itu, petugas bandara lelaki kemudian menyeretnya keluar, menarik tasnya, dan berteriak agar dia diam.

”Saya tidak siap mempercayai mereka kecuali mereka bisa menunjukkan hukum atau dokumen legal kalau pemeriksaan juga mencakup isi di balik jilbab saya,” tulisnya.

Aghnia kemudian memutuskan untuk tidak terbang dari Bandara Ciampino dan membeli penerbangan baru via Leonardo da Vinci, Bandara Fiumicino, yang juga berada di Roma untuk terbang ke London. Di bandara tersebut, Aghnia pun diminta untuk melepas hijabnya. Namun kali ini dia mematuhi aturan tersebut.

Postingan Aghnia pun menyebar secara viral. Sudah dilihat lebih dari 20 ribu kali dengan lebih dari 100 komentar, dan di share lebih dari 400 kali. Media-media Barat pun ikut memberitakan kasus ini. Namun sayangnya, komentar simpatik yang mungkin diharapkan Aghnia tidak ada.

Sebagian besar dari netizien menyebutkan kalau Aghnia terlalu berlebihan. Seorang netizen yang berkomentar di halaman Daily Mail menulis kalau Aghnia seharusnya mematuhi aturan bandara.

”Bukan perasaan satu orang yang perlu diperhatikan dalam kasus ini. Melainkan keselamatan semua orang yang berada di dalam pesawat. Wajar bila petugas kemudian menganggap dia tidak aman.”

Ada juga yang mengatakan kalau Aghnia jangan menyalahkan petugas bandara karena itu semua adalah tanggung jawab mereka demi memastikan keamanan penerbangan. ”Diskriminasi? Selama ini, bukan para biarawati yang menyimpan bom dan AK47 di balik baju mereka,” tambahnya.



loading...

Feeds

Tak Terasa Padi Sudah 20 Tahun

Namun semua itu gagal. ’’Jalannya memang harus vakum, bukan mencari personil lain sebagai pengganti, atau bahkan bubar,’’ paparnya.