Alu yang Digunakan Andi Lala Bunuh Selingkuhan Istrinya, Masih Digunakan untuk Menumbuk Sayur

Kapolda Sumut Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel memegang bukti alu yang digunakan Andi Lala membunuh di tahun 2015.
foto : instagram Polda Sumut

Kapolda Sumut Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel memegang bukti alu yang digunakan Andi Lala membunuh di tahun 2015. foto : instagram Polda Sumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Sebutan pembunuh berdarah dingin layak disematkan kepada Andi Lala, otak tersangka pembunuhan satu keluarga di Mabar. Sebab, ini bukan kali pertama dirinya menghilangkan nyawa orang.

Lima orang meregang nyawa di Mabar akibat keganasannya, adalah kasus keduanya. Pembunuhan yang pertama terjadi 2015 lalu, dia juga pernah membunuh Suherwan alias Iwan Kakek, warga Desa Sumber Rejo, Lubukpakam, Deliserdang. Sayangnya, kasus ini tak terungkap ke publik, hingga Andi Lala lepas dari jerat hukum.

Hal itu terungkap dari pengakuan Andi Lala kepada penyidik usai diringkus di Riau, beberapa hari lalu.

“Pembunuhan itu Juli 2015. Tepatnya saat Bulan Ramadan. Dia membunuh Suherwan karena berselingkuh dengan istrinya. Pembunuhan itu dilakukan Andi Lala di rumahnya. Istri Andi Lala terlibat di dalamnya,” ujar Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Ahmelza Dahniel.

Andi Lala dendam terhadap Iwan Kakek lantaran istrinya pernah digauli sebanyak tujuh kali. Dia pun merencanakan pembunuhan.

Modusnya, Andi menyuruh istrinya meminta Iwan Kakek datang ke rumah. Dengan alasan Andi sedang pergi ke luar kota.

Iwan Kakek pun mengiyakan permintaan Reni Safitri. Andi Lala menunggu Iwan Kakek di belakang pintu. Begitu Iwan Kakek masuk, Andi Lala langsung menghantam dengan alu (kayu gilingan. Dalam menjalankan aksinya ini, ia dibantu Irfan.

Untuk menggelabui perbuatannya, jasad Iwan Kakek dibuang ke selokan bersama sepeda motornya. Itu untuk mengelabui petugas. Jadi seolah Iwan Kakek tewas dalam lakalantas.
Parahnya, alu untuk membunuh Iwan tidak dibuang, melainkan tetap dipakai untuk menumbuk sayur.

 



loading...

Feeds

Unpri Stimulus Penelitian Dosen

"Dosen itu harus lebih termotivasi melakukan penelitian agar proses Tri Dharma Perguruan Tinggi dapat berjalan secara lebih maksimal," ujarnya