Tragis! Diduga Cemburu, Ayah Angkat Tikam Anak Hingga Tewas

ilustrasi
pixabay

ilustrasi pixabay

POJOKSUMUT.com, TAPTENG-Seorang pria bernama Fredi Gulo (25) tewas di tangan ayah angkatnya, SG (45), Minggu (16/4/2017) di Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, Tapanuli Tengah (Tapteng) sekira 22.00 WIB.

Kejadian ini menghebohkan warga, mengingat Gulo sudah dirawat SG sejak berusia 10 tahun.

Penikaman ini memang sudah diawali selisih paham. Namun, selisih paham itu sebenarnya sudah berakhir, dimana keduanya didamaikan oleh penetua gereja dan pemilik kebun tempat mereka beekerja pada Jumat (14/4/2017).

Informasi dihimpun New Tapanuli (grup pojoksumut.com), diketahui bahwa sebelum penikaman terjadi, Ferdi dan istrinya, Yanti br Hulu (30) sempat meninggalkan rumahnya karena mendapat ancaman akan dibunuh SG.

Korban yang merupakan warga Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Tapteng, tewas akibat luka tikam di perut sebelah kirinya. Peristiwa berdarah itu terjadi di kediaman pelaku. Diketahui bahwa saat itu SG bersama istrinya, DG (44), mendatangi rumah korban. Tanpa basa-basi, SG langsung menikam korban di bagian perut sebelah kiri.

Mendapat serangan secara tiba-tiba dari ayah angkatnya itu, korban kemudian berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah. Dengan susah payah, korban berhasil menuju kantor PT Roganda yang berjarak sekira 209 meter dari kediamannya dan meminta pertolongan warga sekitar.

Dia kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu korban masih bisa berjalan dan sempat menceritakan kejadian tragis yang menimpanya dan meminta warga untuk merekamnya. Korban menceritakan ia telah ditikam oleh SG dan DG yang merupakan ayah dan ibu angkatnya.

“Korban sempat menceritakan kejadian penikaman yang menimpanya dan mengatakan bahwa Yanti br Hulu (istri korban) juga mendapat penikaman,” ujar salah seorang warga yang tidak ingin namanya disebutkan.

Setelah menceritakan kejadian yang menimpanya, korban kemudian dibawa ke RSUD Pandan untuk mendapatkan perawatan. Namun malang, pria yang baru menikah bulan November 2016 silam ini tidak tertolong dan menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (17/4/2017) sekitar pukul 14.00 WIB.

Menurut sumber wartawan koran ini, sejak korban menikah dengan istrinya, Yanti br Hulu, hubungannya dengan pelaku menjadi tidak harmonis. Pasalnya, korban yang diadopsi pelaku sejak umur 10 tahun lebih memfokuskan diri mengurus keluarga yang baru dibinanya itu, sehingga membuat pelaku merasa sakit hati dan tidak berterima karena merasa tidak lagi dipedulikan oleh korban.

Sakit hati pelaku pun diketahui semakin memuncak, dimana korban memiliki utang kepada pelaku, sebesar Rp6 juta, yang disebut-sebut digunakan untuk biaya pernikahan korban dengan istrinya.“Kemungkinan korban tidak lagi dapat membantu orangtua angkatnya sehingga pelaku merasa sakit hati,” sambung warga.



loading...

Feeds