Oknum Guru yang Diduga Mengancam Amel, Memaksa Siswinya Jual Diri Diperiksa Polisi

Jenazah Amel Nasution disambut tangis keluarga. Dua oknum guru yang diduga mengintimidasi Amel terbukti membocorkan soal ujian.
foto : metrotabagsel/JPG

Jenazah Amel Nasution disambut tangis keluarga. Dua oknum guru yang diduga mengintimidasi Amel terbukti membocorkan soal ujian. foto : metrotabagsel/JPG

POJOKSUMUT.com, PADANGSIDIMPUAN-Oknum guru di SMK Negeri 3 Padangsidimpuan, KS, menjadi sosok yang paling banyak dilaporkan terkait ulahnya yang buruk terhadap anak didiknya.

Mulai dari dugaan mengancam Amelya Nasution yang akhirnya meninggal dunia setelah minum racun rumput, KS juga disebut menyuruh lima siswinya jual diri lantaran belum membayar yang iuran sekolah. Termasuk juga merampas HP siswinya sebagai jaminan. Kasus ini bahkan telah sampai ke nasional.

Saat ini, pihak kepolisian telah memeriksa yang bersangkutan. Kasat Reskrim Polres Psp AKP Zul Efendi memaparkan, dugaan kasus intimidasi yang menyebabkan Amel minum racun dan meninggal dunia masih dalam tahap penyelidikan.

Selain meminta keterangan dari saksi pelapor, pihaknya juga sudah memanggil KS (oknum guru,red) dan meminta keterangannya. “Hari ini sudah kita panggil dan lakukan pemeriksaan, ada lima oknum guru, salah satunya berinisial K (KS, red),” ujar Kasat Kamis (20/4/2017), seperti dilansir dari metro tabagsel (grup pojoksumut)

Sebelumnya, selain disuruh jual diri, siswi SMK Negeri 3 Padangsidimpuan mengaku bahwa handphone milik teman mereka ikut disita oknum guru agar bisa ikut ujian.

Empat siswi SMK Negeri 3 Padangsidimpuan yang melaporkan adanya ucapan oknum guru yang menyuruh mereka menjual diri membeberkan masalah lainnya.

AH, satu dari lima siswi yang mendapat ucapan kasar dan tak patut dari oknum guru mereka ada meminta handphone (HP) miliknya dengan alasan sebagai jaminan pengganti uang PU (Pengelolaan Usaha) yang belum dibayar.

“Ibu itu (Oknum Guru KS,red) sempat minta HP kami sebagai jaminan uang PU, dan dibilangnya HP kawan kami sudah diberikan kepadanya. Dan diiyakan kawan kami itu,” ujar SA, KS, IG, dan PN dan menyebut inisial temannya AH.

HP itu, kata mereka, sebagai jaminan atau digadaikan untuk menutupi uang PU mereka yang belum dibayar sebesar Rp480 ribu.

“Kawan kami itu, kartu ujiannya langsung dikasih ibu itu. Tapi kami belum,” ungkap mereka dan beberapa hari selanjutnya menjumpai kepala sekolah.

Setelah bertemu ibu kepala sekolah, mereka pun menceritakan soal kartu ujian yang belum diberikan oknum guru tersebut. Lalu Ibu Kasek memanggil oknum guru, dan kartu ujian pun diberikan. “Setelah kami lapor sama Ibu kepala Sekola baru kartu ujian kami dikasih,” tukas mereka dan mengaku masih sempat mendapat ancaman tidak dapat ijazah jika belum melunasi uang PU mereka. (yza/mt/nin/pojoksumut)



loading...

Feeds

SAH! Besok Kita Lebaran

Menurutnya, hilal terlihat di pada sudut ketinggian 3,88 derajat dengan umur bulan 8 jam 15 menit dan 24 detik. Hal …