Pembunuh Anak Angkat Itu Berhasil Ditangkap, Begini Alasannya

Tersangka (baju merah) saat diamankan pihak berwajib setelah tujuh hari buron.
foto : newtapanuli/JPG

Tersangka (baju merah) saat diamankan pihak berwajib setelah tujuh hari buron. foto : newtapanuli/JPG

POJOKSUMUT.com, TAPTENG-Pelarian SG (45), tersangka pembunuhan anak angkatnya Ferdi Nduru (25) akhirnya berakhir. Setelah tujuh hari buron SG ditangkap di perkebunan milik warga di Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Tapteng, sekira pukul 14.00 WIB, Senin (24/4/2017).

Pemeriksaan sementara, motif pembunuhan karena pelaku sakit hati dimaki oleh anak angkatnya. Kapolres Tapteng AKBP Hari Setyo Budi melalui Kapolsek Pinangsori AKP Lumumba Siregar dalam keterangan persnya mengatakan bahwa SG ditangkap berkat bantuan dari masyarakat.

“Sudah ketangkap di Masundung, jam siang dua tadi,” ujar AKP Lumumba kepada NEW TAPANULI (grup pojoksumut), usai penangkapan.

Kapolsek menuturkan bahwa SG telah mengakui perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa anak angkatnya, Ferdi, pada Minggu (16/4) yang lalu.

“Sudah diakuinya,” ujar kapolsek.

Disinggung motif SG tega menghabisi nyawa anak angkatnya tersebut, AKP Lumumba menuturkan bahwa dari informasi sementara yang mereka peroleh, ini disebabkan karena SG sakit hati atas perkataan yang dilontarkan korban kepadanya.

“Motifnya, dimaki dia katanya. Tunggulah dulu, lagi diperiksa ini ya,” ungkap kapolsek.

Sementara, terkait keberadaan DG (44), istri SG, dan Yanti Br Hulu (30), istri korban, kapolsek mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya juga masih melakukan pencarian. Hingga saat ini, hanya SG yang berhasil ditemukan.

Diterangkan, saat dilakukan pencarian, pihaknya pernah hampir menemukan DG di suatu tempat, tepatnya pada Jumat (21/4) lalu. Namun, DG berhasil kabur dari intaian petugas.

“Belum, istrinya (SG) kemarin lari, waktu kami gerebek ke atas. Hari Jumat kemarin lari istrinya,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, cemburu dan merasa diabaikan, diduga menjadi penyebab SG (45) menikam Ferdi Nduru, anak yang diadopsinya sejak berusia 10 tahun, hingga berujung kematian.

Informasi dihimpun, korban yang merupakan warga Desa Masundung, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), tewas akibat luka tikam di perut sebelah kirinya. Peristiwa berdarah itu terjadi di kediaman pelaku di Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, Tapteng, pada Minggu (16/4) sekitar pukul 22.00 WIB.

Diketahui bahwa saat itu SG bersama istrinya, DG (44), mendatangi rumah korban. Tanpa basa-basi, SG langsung menikam korban di bagian perut sebelah kiri.

Mendapat serangan secara tiba-tiba dari ayah angkatnya itu, korban kemudian berlari menyelamatkan diri keluar dari rumah. Dengan susah payah, korban berhasil menuju kantor PT Roganda yang berjarak sekitar 209 meter dari kediamannya dan meminta pertolongan warga sekitar.

Dia kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu korban masih bisa berjalan dan sempat menceritakan kejadian tragis yang menimpanya dan meminta warga untuk merekamnya. Korban menceritakan ia telah ditikam oleh SG dan DG yang merupakan ayah dan ibu angkatnya. “Korban sempat menceritakan kejadian penikaman yang menimpanya dan mengatakan bahwa Yanti br Hulu (istri korban) juga mendapat penikaman,” ujar salah seorang warga yang tidak ingin namanya disebutkan.

Setelah menceritakan kejadian yang menimpanya, korban kemudian dibawa ke RSUD Pandan untuk mendapatkan perawatan. Namun malang, pria yang baru menikah bulan November 2016 silam ini tidak tertolong dan menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (17/4) sekitar pukul 14.00 WIB.

Menurut sumber wartawan koran ini, sejak korban menikah dengan istrinya, Yanti br Hulu, hubungannya dengan pelaku menjadi tidak harmonis. Pasalnya, korban yang diadopsi pelaku sejak umur 10 tahun lebih memfokuskan diri mengurus keluarga yang baru dibinanya itu, sehingga membuat pelaku merasa sakit hati dan tidak berterima karena merasa tidak lagi dipedulikan oleh korban.

Sakit hati pelaku pun diketahui semakin memuncak, dimana korban memiliki utang kepada pelaku, sebesar Rp6 juta, yang disebut-sebut digunakan untuk biaya pernikahan korban dengan istrinya.

“Kemungkinan korban tidak lagi dapat membantu orangtua angkatnya sehingga pelaku merasa sakit hati,” sambung warga. (dh/ara/nt/jpg/nin)



loading...

Feeds