Harapan Baru untuk Penderita Tuli dan Bisu di Sumut

Tim Implan Koklea RS USU sedang mengoperasi penderita tuli bisu, terhadap pasien perempuan berusia 2,5 tahun baru-baru ini. 
Foto : istimewa for pojoksumut

Tim Implan Koklea RS USU sedang mengoperasi penderita tuli bisu, terhadap pasien perempuan berusia 2,5 tahun baru-baru ini. Foto : istimewa for pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Teknologi untuk mengatasi gangguan pendengaran semakin maju. Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dalam mengimplementasikan visinya sebagai pusat pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi Kedokteran di wilayah Indonesia Barat tahun 2025, maka pada 23 April 2017 RS USU berhasil melakukan implantasi koklea atau rumah siput yang pertama pada penderita tuli bisu.

Implantasi dilakukan selama dua jam terhadap pasien perempuan berusia 2,5 tahun.

“Pasien yang mengalami ketulian sejak lahir ini akan dapat mendengar dengan baik, sehingga bisa berbicara secara normal,” kata Ketua Tim Implan Koklea RS USU, Prof Delfitri Munir SpTHTKL(K) didampingi Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS USU, Dr dr Nazaruddin Umar SpAn KNA di RS USU Jalan Dr T Mansyur, Rabu (26/4/2017).

Implantasi koklea, ungkap Prof Delfitri Munir adalah prosedur penanaman alat bantu dengar yang dilakukan melalui tindakan operasi pada tulang temporal. Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tuli bisu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa.

Kerusakan pendengaran yang terjadi pada organ telinga luar (daun telinga) dan telinga tengah (gendang telinga) masih dapat ditolong dengan alat bantu dengar. Sedangkan kerusakan pada organ telinga dalam (koklea), hanya dapat ditolong dengan implantasi koklea.

“Koklea merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea. Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran,” jelas Prof Delfitri Munir.

Diutarakannya, operasi implan koklea sebaiknya dilakukan pada usia 1-2 tahun agar hasil pendengarannya lebih baik. Karena alat ditanam, maka gendang telinga tetap utuh dan tidak menimbulkan reaksi atau efek samping yang mengganggu.

Lebih jauh dia mengatakan, di Indonesia berdasarkan data yang ada, penderita tuli bisu atau gangguan pendengaran sejak lahir berkisar 1-3 dari 1.000 kelahiran bayi. Sehingga ada 5.000 bayi lahir tuli setiap tahun di Indonesia.



loading...

Feeds