Kisah Perjuangan Kakak Beradik Asal Sumut Meraih Dua Emas Computer Science di Jerman

Fira dan Pras didampingi ibu, kepala yayasan, guru pembimbing, kepala sekolahnya saat temu pers di Chandra Kusuma School (CKS), Rabu (26/4/2017).
foto : nin/pojoksumut

Fira dan Pras didampingi ibu, kepala yayasan, guru pembimbing, kepala sekolahnya saat temu pers di Chandra Kusuma School (CKS), Rabu (26/4/2017). foto : nin/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, WAJAH Fira Fatmasiefa tak terhenti mengumbar senyuman manis saat berhadapan dengan sejumlah jurnalis di Ruangan Perpustakaan Chandra Kusuma School (CKS) Jalan Cemara, Deliserdang, Sumatera Utara, kemarin (26/4/2017).

Bersama adiknya, Brasmasto Rahman Prasojo yang masih SMP Kelas IX, siswi Kelas XI ini tampak begitu bersemangat begitu bercerita tentang pengalaman selama di Jerman.

Ya, Fira-sapaan akrabnya, juga Pras-adiknya, baru saja mencatatkan prestasi gemilang dengan merebut dua medali emas di Ajang International Conference of Youth Sceintist (ICYS) 2017 di Stuttgard, Jerman 16-23 April.

Mereka pulang ke Tanah Air dengan kepala tegak setelah mengalahkan semua perwakilan dari berbagai negara di dunia dengan penemuan alat untuk membantu tunanetra agar bisa belajar dengan lebih cepat dan mandiri dari sistem konvensional yang selama ini ada.

Baca Juga : Temukan Alat Bantu Belajar bagi Tunanetra, Dua pelajar CKS Medan Raih Dua Emas di Jerman

Dua medali emas di bidang computer science itu dengan riset berjudul Braille earning Algorithm dengan alat diberi nama Braille Literacy Helper. Dimana, tunanetra khususnya yang mengalami kebutaan tidak dari lahir bisa belajar dengan baik.

Fira dan Pras sambil menunjukan penemuan mereka bernama Braille Literacy Helper, Rabu (26/4/2017) di Chandra Kusuma School, Jalan Cemara Asri.
foto : nin/pojoksumut

Alat ini membuat empat siklus dalam proses pembelajaran, alat yang dilengkapi empat tombol untuk pengenalan dan hapalan alfabet. Kemudian alat ini akan membimbing siswa untuk mengulangi huruf alfabet mana yang belum hapal hingga bisa benar-benar hapal bahkan bisa bekerja tanpa guru.

Fira menjelaskan perjalanan rombongan sekolah menuju Jerman cukup melelahkan, namun menyenangkan. “Dari Jakarta kami transit ke Istanbul dengan perjalanan 12 jam langsung Stuttgard. Tidur enggak nyenyak di pesawat. Begitu sampai kami disambut lalu naik kereta api ke hostel. Lalu kami di sana langsung diberikan science quiz pada malam pertama,” ujar Fira.

Cewek kelahiran 9 Juni 2000 ini mengatakan, di sana mereka langsung dapat teman pertama dari Thailand, Belarusia, Republik Ceko dan Belanda.

Mereka sempat terkejut saat bertemu pesaing dari negara lain yang badannya tinggi seperti anak kuliahan. “Paling mengintimidasi itu dari Rusia dan Jerman, bodinya besar-besar kayak orang kuliah, tinggi. Laki-laki semua. Tapi setelah kenalan, ternyata enggak sedingin yang kami bayangkan, sungguh bersahabat,” jelasnya.

Di lokasi acara, Fira menambahkan ada momen berbagi budaya. Indonesiapun menjadi perhatian, saat Fira yang juga pintar menari menampilkan tari balet, tari melayu dengan iringan lagu Merah Putih milik Band Cokelat. “Kami mendapat apresiasi karena ini pertunjukkan paling meriah dalam sejarah kompetisi,” kenang Fira.

Saat presentase ke juri, Fira dan Pras mengajak para juri menjadi sukarelawan untuk berakting seperti tunanetra agar bisa mempraktekkan alatnya.

“Yang buat kami unggul, karena ada aspek sosial, apalagi di bidang computer science yang berdampak bagi orang banyak, khususnya tunanetra. Juri bilang belum ada alat seperti ini yang membantu tunanetra belajar brailler dengan mandiri,” jelasnya.

Saat malam penghargaan, Fira dan Pras semakin tak menentu perasaannya. Mereka menjadi peserta yang diumumkan terakhir, yang berarti peserta dengan skor paling tinggi.

“Saya nangis, saya enggak tahan. Teman-teman bilang, Fira maskaranya luntur, saya benar-benar bahagia,” ucapnya sambil tertawa.

Fira memang pantas bahagia. Bagaimana tidak, ini keikutsertaannya kali keempat. Untuk bisa ikut ke ajang bergengsi ini, Fira dan adiknya harus menyisihkan peserta lain tingkat daerah di LPBSU Sumut 8 Oktober 2016, lalu mereka meraih emas juga di tingkat nasional, hingga diputuskan juri nasional menjadi wakil Indonesia.

“Saya sudah ikut sejak 2013, perjuangan sudah empat tahun, sampai juri-juri (daerah) sudah hapal sama saya. Jadi saya benar-benar bahagia, bisa sampai di titik saya sekaraang, karena perjalanan yang cukup panjang,” ungkapnya.



loading...

Feeds