Pengalaman Rio Dewanto Dkk di Film Militer, Sempat Kewalahan Latihan Fisik

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan menyematkan topi baret kepada Rio Dewanto sebagai penanda dimulainya syuting Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo akan menyematkan topi baret kepada Rio Dewanto sebagai penanda dimulainya syuting Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

POJOKSUMUT.com, BERMAIN dalam film bertema militer tak gampang bagi para aktor. Setidaknya inilah yang dirasakan Maruli Tampubolon, Rio Dewanto, dan Rendy Kjaernett yang harus ikut digembleng dalam film Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon pada 2016

Rio Dewanto bercerita pengalamannya berperan di film ini. Sebelum syuting, dia ikut pelatihan militer di Batalyon Infanteri 328 Cilodong. Latihannya jauh lebih berat dari yang dia bayangkan.

Begitu turun dari truk, disuruh squat sampai ke tempat kumpul sambil dibentak-bentak. Setiap harinya, dia harus berlari sepanjang 7 hingga 10 kilometer sebanyak 3 kali dengan seragam militer dan berbagai atribut yang beratnya lebih dari 10 kilogram. Latihan-latihan berat itu dilakukan di bawah teriakan dan bentakan pelatih militer mereka.

 

”Fisik dan mental benar-benar di-push,” ujarnya. Rio juga belajar bahasa sandi ala tentara serta berkomunikasi dengan handie-talkie.

Dalam film yang diproduksi TeBe Silalahi Pictures ini Rio ikut pelatihan militer di Batalyon Infanteri 328 Cilodong. “Sebagai persiapan, saya sering joging dan olahraga ringan secara rutin aja sih,” katanya.

Namun, saat tiba di lokasi pelatihan, Rio dihadapkan dengan latihan yang jauh lebih berat. Sejak turun dari truk, fisik sudah mulai ditempa. “Kami disuruh jalan jongkok alias squat sampai ke tempat kumpul sambil diteriakin dan dibentak-bentak,” kata Rio mengenang. Alhasil, selain fisik, mental pun benar-benar di-push saat boot camp militer.

Latihan fisik lain pun sudah menunggu Rio. Setiap hari dia harus berlari sepanjang 7 hingga 10 kilometer sebanyak 3 kali. Dengan demikian, total sehari bisa 30 km. Tidak mengenakan workout gear, tapi dengan seragam militer dan atributnya yang berat.

“Kami pakai helm 3 kg dan bawa senjata beratnya 7 kg,” kata Rio. Bukannya mengenakan running shoes, Rio dan rekan-rekannya mengenakan army boots seberat 0,5 kg. Jadi, total beban yang dibawa mereka selama berlari adalah 10,5 kg.

Pull-up, sit-up, dan push-up menjadi salah satu latihan fisik. Biasanya, di rumah Rio melakukan ketiganya secara bertahap dengan istirahat di sela-sela. “Tapi, waktu di boot camp militer, semuanya harus dilakukan kontinu dengan jumlah minimal 100 kali. Saya sempat kewalahan dan nggak sanggup 100 kali,” ujar Rio, lantas tertawa.

Selain itu, selama empat hari, Rio dilatih bela diri yang menuntutnya agar lebih tangkas, lincah, dan kuat. Refleksnya harus bagus demi menghindari serangan. Rio juga belajar komunikasi ala tentara. Misalnya, komunikasi dalam bahasa sandi dan kode, menyampaikan laporan dengan suara tegas, serta telekomunikasi dengan handie-talkie.

Perlakuan yang diterima Rio selama latihan pun tidak istimewa. Jika salah, dia akan dibentak dan ditegur dengan keras walau selebriti. Suami Atiqah Hasiholan itu juga harus terbiasa untuk bergerak sigap. “Misalnya, pas lagi tidur tiba-tiba ada sirene. Maka, kami semua harus segera berbaris di luar barak,” katanya.



loading...

Feeds