Bagaimana DA Bisa Sembunyikan Derita Jadi Korban Ayahnya Selama 15 Tahun

 Wakapolres Kukar Kompol Andre Anas (tengah) dan Kanit I Subdit IV Cyber Crime Polda Metro Jaya Kompol Joko Handono (kanan) saat memberi keterangan pers di Tenggarong, kemarin. (rifqi/kaltimpos/JPG)

Wakapolres Kukar Kompol Andre Anas (tengah) dan Kanit I Subdit IV Cyber Crime Polda Metro Jaya Kompol Joko Handono (kanan) saat memberi keterangan pers di Tenggarong, kemarin. (rifqi/kaltimpos/JPG)

POJOKSUMUT.com, KALTIM-Penderitaan DA (17) menjadi korban pedofilia oleh ayah kandung berinisial AG (41) asal Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar) berakhir sudah. Sabtu (6/5/2017) DA yang sempat mengikuti pelepasan kelulusan di sebuah SMA di Kukar, merasa bahagia. Bukan hanya resmi lulus, melainkan juga bebas dari belenggu bertahun-tahun melayani nafsu bejat sang ayah.

Akhir pekan lalu, sekira pukul 16.00 Wita, polisi meringkus AG di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Kembang Janggut. Dia langsung dibawa dengan mobil milik Unit Opsnal Polres Kukar. Dari hasil interogasi, AG mengakui perbuatannya. Dia sudah lama menggauli DA. Bahkan, pencabulan dilakukan sejak DA berusia dua tahun.

Selanjutnya, saat usia DA beranjak 11 tahun, AG mulai melakukan hubungan badan layaknya suami-istri. Artinya, sudah 15 tahun DA harus melayani nafsu bejat sang ayah. Hubungan keduanya tanpa diketahui oleh ibu korban. Sementara itu, perlakuan asusila tersebut kerap dilakukan saat ibunya sedang tidak di rumah atau tidur.

Adapun, Kaltim Post (grup pojoksumut) menemui sejumlah orang yang mengenal dekat tersangka dan korban. Kepiawaian tersangka menyembunyikan aksi asusila itu patut menarik perhatian. Begitu juga DA selaku korban, selama ini dianggap tidak memiliki perilaku yang mencurigakan selama beraktivitas sehari-hari. Hal itu yang justru mengundang keprihatinan lantaran keduanya mampu saling menyembunyikan.

Berdasar informasi seorang sumber yang mengenal DA, selama ini, dia dikenal baik. Meski tak terlalu menonjol dalam prestasi akademik, DA selalu memilih meja terdepan dalam proses belajar-mengajar. Dia juga dikenal aktif dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Termasuk ketika memberikan respons gurauan dari seseorang.

“Yang saya heran, selama ini korban sama sekali tidak pernah memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. Apakah itu murung atau bagaimana. Korban juga bergaul dengan baik sesama teman-temannya. Kalau duduk di sekolah, paling depan,” ungkap sumber.

Korban juga sudah memiliki rencana melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. Jurusan yang bakal diambil adalah salah satu ilmu sosial non-eksakta. Saat ini, DA sedang serius mempersiapkan proses seleksi masuk PTN tersebut. DA juga mendaftar secara kolektif melalui sekolah. Rencananya, bulan ini proses seleksi berjalan.

“Saya masih ingat sekali terakhir bertemu dia (korban) saat acara pelepasan di sekolah. Rasanya saya tidak menyangka jika dia menjadi korban kasus seperti ini. Sama sekali tidak menyangka. Mungkin selama ini dia menutupi masalah yang dihadapi tersebut,” tambahnya.

Sama halnya dengan DA, tersangka AG juga dikenal baik dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan saat beraktivitas. Seorang karyawan sebuah perusahaan kelapa sawit di Kukar menuturkan, posisi AG mestinya menunjukkan bahwa dirinya merupakan orang terpelajar. Sejumlah kemampuan kepemimpinan juga sudah dibekali. Karena posisinya sebagai asisten kepala, AG diberi fasilitas untuk tinggal di sebuah rumah. Berbeda dengan bawahannya yang tinggal menyatu di sejumlah bilik mes.

“Kalau acara family gathering di kantor, dia selalu datang dengan keluarganya. Saya sama sekali tidak mengira jika AG ini ternyata seperti itu. Benar-benar ada kelainan jika memang tersangkut kasus ini,” katanya.

Sementara itu, sekitar pukul 10.00 Wita, DA beserta ibunya datang ke ruangan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kukar di Tenggarong. Selain petugas kepolisian, di ruangan itu sudah ada tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kukar.

Dengan mengenakan penutup wajah, keduanya memilih lebih banyak diam. Mereka tampak masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Kecamatan Kembang Janggut.



loading...

Feeds