Sebut Rezim Jokowi Lebih Parah dari SBY, Mendagri Desak Ahoker Ini Minta Maaf

Tjahjo Kumolo
foto :  tjahjo kumolo.com

Tjahjo Kumolo foto : tjahjo kumolo.com

POJOKSUMUT.com, JAKARTA-Orasi seorang pendukung terdakwa penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendadak terkenal. Aksi orasinya yang dilakukan di Rutan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (9/5/2017) malam jadi perbincangan.

Aksi perempuan dengan inisial VKL beralamat di Jelambar, Jakarta Barat terekam dalam video. Terunggah di media sosial dan mendadak viral.

Dalam rekaman tersebut, dia menyebut bahwa rezim Presiden Joko Widodo lebih parah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dua periode memerintah.

Reaksi pun datang dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh perempuan tida ada kaitannya antara kasus yang dihadapi oleh Ahok dengan Presiden Jokowi.

Tjahjo mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan perbuatan seperti orator dalam rekaman video itu yang memaki-maki Presiden Jokowi. Sebab, tak semestinya vonis atas Ahok lantas diseret-seret ke presiden.

“Membela Pak Ahok silakan, itu hak asasi manusia. Tapi janganlah dikaitkan dengan orang lain yang belum tentu benar,” ujar Tjahjo di Jakarta, Kamis (11/5/2017).

Mantan sekretaris jenderal PDI Perjuangan itu menambahkan, membela seseorang tetap harus dalam koridor aturan dan bertanggung jawab. Sebab, jangan sampai upaya membela Ahok justru dibarengi langkah menebar fitnah dan kebencian.

Karenanya, Tjahjo merasa ikut marah kepada Ahoker -julukan bagi pendukung Ahok- yang menyerang harkat dan martabat Presiden Jokowi. Sebab, Tjahjo merupakan bagian dari pemerintahan yang dipimpin presiden asal PDI Perjuangan itu.

“Saya sebagai mendagri merupakan bagian dari rezim pemerintahan Pak Jokowi, tentu saja merasa tersinggung dengan ucapan orang yang mengaku simpatisan Ahok tersebut. Jika isi rekaman itu benar, saya minta yang bersangkutan segera meminta maaf,” kata mantan anggota DPR ini.

Oleh sebab itu, Tjahjo menegaskan akan segera mengirimkan surat ke perempuan itu untuk mengklarifikasi maksud dan tujuannya sehingga Presiden Jokowi dibaw-bawa dalam orasinya itu.

“Dalam satu Minggu untuk menjelaskan, pernyataan terbuka apa maksud memfitnah (Presiden Jokowi) dengan kata-kata yang tidak pantas,” tegas Tjahjo dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/5/2017).



loading...

Feeds