Kapolrestabes Sandy Nugroho, Jangan Biarkan Kami Mati di Sarangmu

Mahasiswa menggelar aksi solidaritas menuntut rekannya dibebaskan dari Polrestabaes Medan, Sabtu (13/5/2017).
foto : nin/pojoksumut

Mahasiswa menggelar aksi solidaritas menuntut rekannya dibebaskan dari Polrestabaes Medan, Sabtu (13/5/2017). foto : nin/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Belasan pemuda yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) menggelar aksi di sekitar Jalan SM Raja, Simpang Pelangi Medan, Sabtu (13/5/2017) sore. Ini merupakan imbas dari penahanan beberapa mahasiswa pasca-demo ricuh di momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2017 lalu di Jalan Dr Mansyur.

Mereka membawa poster dan berteriak lantang di depan publik dan lalu lalang kendaraan umum di jalan raya yang padat tersebut. Mengingat, pada waktu yang sama, PSMS Medan sedang berlaga melawan PSBL Langsa di Stadion Teladan.

“Kapolrestabes Sandy Nugroho Jangan Biarkan Kami Mati di Sarangmu” salah satu tulisan yang ditunjukkan ke warga Medan yang melintas. Mereka juga menyebarkan pernyataan sikap disertai gambar ketiga mahasiswa yang ditahan.

Dalam orasinya para mahasiswa menuntut Polrestabes Medan melepaskan tiga orang mahasiswa yang ditahan, dimana dua dari ITM atas nama Fadel dan Fikri sedang satu lainnya adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) bernama Mensen.

Mereka menyebutkan, penahanan tersebut sebagai betuk antidemokrasi terhadap gerakan mahasiswa di Medan. “Kami juga memiliki bukti foto ketiga rekan kami yang ditahan tersebut mendapatkan kekerasan fisik yang sengaja dilakukan pihak Polrestabes Medan hingga menyebabkan geger otak yang dialami Fadel. Juga Fikri yang mengalami gangguan penglihatan dan Mensen muntah darah lalu dirawat di RS Bhayangkara,” ujar mereka.

Selain itu, mereka mengecam aksi Polrestabes Medan yang melakukan penggeledahan di Sekretariat Formadas dan Sekretariat Gema Prodem serta melakukan penculikan terhadap beberapa mahasiswa.

“Yang telah dilakukan Polrestabes ini tidak hanya menciderai demokrasi tapi juga mencoreng institusinya sendiri yang secara beringas berusaha membunuh tegaknya demokrasi di Kota Medan,” teriak mereka.

Sejatinya ini bukan aksi kali pertama yang dilakukan Solidaritas Mahasiswa ITM. Setidaknya sudah tiga kali mereka turun ke jalan, namun aspirasi mereka dianggap angin lalu. Untuk itu, dalam pernyataan sikapnya, mereka menuntut Polrestabes menghentikan kriminalisasi gerakan mahasiswa, menghentikan teror intelijen di lingkungan kampus.

Kapolrestabes Medan, Sandy Nugroho disebut harus bertanggung jawab atas terbunuhnya hak demokrasi mahasiswa Medan. “Penculikan aktivias mahasiswa adalah kejahatan HAM, jalankan amanat UUD 1945 pasal 28 E ayat 3 dan tegakkan UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers,” ungkap para mahasiswa. (nin/pojoksumut)



loading...

Feeds