Tanggap Tangani Alergi Anak Lewat 3K

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Menurut organisasi dunia tentang alergi (World Allergy Organization), anak lebih berisiko mengalami alergi dibanding orang yang lebih tua. Angka prevalensi pada anak sebesar 4,6 persen sedangkan dewasa hanya 1-3 persen.

 
Selain itu, anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika memiliki riwayat penyakit atopik dalam keluarga, seperti dermatitis atopik, asma dan rhinitis alergi dari setidaknya salah satu orang tua atau saudara kandung.

 
Hal itu diungkapkan Konsultan Alergi lmunologi Anak, Prof Dr Budi Setiabudiawan SpA(K) dalam acara diskusi yang digelar Nutricia Sarihusada di Hotel JW Marriot Medan, Rabu (17/5/2017).

 

Dalam acara ini turut hadir psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani dan Allergy Care Manager PT Nutricia Sarihusada, Zeinda Rismandari.

 
Diutarakan Budi, tak hanya faktor genetik beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok.

 
Lebih spesifik lagi, data dari Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan, bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak.

 
“Studi di beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan prevalensi alergi protein susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan sekitar 2% sampai 7,596. Angka ini tentunya diikuti risiko yang mungkin mengancam si kecil,” sebutnya.

 
Menurutnya, gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (56-60%), kulit (50-60%), dan juga sistem pernapasan (20-30%). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi.

 
Oleh karena itu, jika tidak segera ditangani dan dibiarkan keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si kecil. Bahkan, memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasanya.

 
“Ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada si kecil yang alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan idealnya dan juga pertumbuhan fisiknya. Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depannya,” beber Budi.

 
Si kecil yang mengalami reaksi alergi rhinitis dan asma, biasanya menimbulkan resistensi pada saluran napas atas dan bawah, hidung tersumbat, gangguan tidur (sleep disorder), dan mendengkur. Tentunya berbagai gangguan yang berisiko dialami si kecil dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup serta proses belajarnya di lingkungan sosial. Terlebih, akan mempengaruhi dalam jangka panjang sampai masa dewasanya.

 
Alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan seperti cake, puding, sup, kue, dan makanan lain yang mengandung susu sapi. Oleh sebab itu kondisi ini memerlukan ketanggapan orangtua untuk mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan menangani reaksi alergi pada si Kecil dengan cepat.



loading...

Feeds