Kisah Sang Imam Salat Tarawih, Menghembuskan Nafas Terakhirnya pada Rakaat Ketujuh

Helmi (kanan) bersama keluarga menguburkan jenazah Jarkasih di tempat pemakaman umum di Jalan AW Sjahranie, Samarinda, kemarin (27/5). 
foto : FATJERIN/Kaltimpos/JPG

Helmi (kanan) bersama keluarga menguburkan jenazah Jarkasih di tempat pemakaman umum di Jalan AW Sjahranie, Samarinda, kemarin (27/5). foto : FATJERIN/Kaltimpos/JPG

POJOKSUMUT.com, SETIAP umat Islam mendambakan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Namun, layaknya rezeki, jodoh, maka maut juga urusan Ilahi. Beruntunglah mereka yang menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan mengingat-Nya.

Seperti yang dialami Jarkasih, seorang imam salat Tarawih pada awal Ramadan, Jumat (26/5/2017) malam.

“Wa Ladh Dhoolin,”  ujung lafal surat Al-Fatihah terucap dari bibir seorang imam saat memimpin salat.

Jarkasih, mengenakan pakaian serbaputih pergi menghadap Yang Kuasa. Siapa sangka, Langgar Al Fajri di Jalan KH Khalid, Samarinda Ilir jadi saksi bisu pria 69 tahun menghadap Allah SWT.

Tubuhnya rebah seketika saat memimpin salat Tarawih pada rakaat ketujuh. Salat tetap berlanjut, Hardadi yang sebagai makmum maju menggantikan Jarkasih. Lafal surat-surat Alquran yang dibacakan terdengar begitu cepat. Ditutup dengan salam, makmum langgar yang didominasi kaum adam lantas berkerumun.

Demikian dengan Helmi, anak tertua dari Jarkasih. Pria bertubuh semampai itu ikut salat bersama. Meski tak berada di belakang sang abah—panggilan akrab Jarkasih, matanya menyorot tajam ke tubuh Jarkasih. Pikirannya tak keruan kala melihat abahnya rebah.

Langgar yang berada persis di pinggir jalan itu mendadak ramai. “Saya minta tolong ambulans, karena lama menunggu, pakai mobil warga,” sebut Helmi saat ditemui Kaltim Post selepas pemakaman Jarkasih kemarin (27/5). Dengan mata berkaca-kaca, Helmi ingat benar bagaimana lafal Alquran terakhir yang dibaca abahnya itu.

Masih di dalam langgar, Helmi sudah yakin jika orangtuanya dipanggil sang Khalik. Namun, pria berambut rapi itu ingin berusaha menolong Jarkasih, dengan membawa abahnya ke rumah sakit. “Tapi, semua ini sudah rencana Yang Mahabesar,” beber Helmi.

Jarkasih sempat dibawa ke RS Bhakti Nugraha. Selanjutnya, jenazah dibawa ke kediamannya di Jalan AW Sjahranie, Gang Flamboyan, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu untuk disemayamkan.

Demikian dengan Hardadi, imam yang menggantikan Jarkasih saat salat Tarawih. “Sudah sepantasnya, makmum yang ada di belakang imam menggantikan jika terjadi apa-apa,” ujar Hardadi.



loading...

Feeds