Tanggapan Kapolri Terkait Bom Kampung Melayu Disebut Rekayasa

Kapolri Jenderal Tito Karnavian 
Foto Yudha/pojoksatu

Kapolri Jenderal Tito Karnavian Foto Yudha/pojoksatu

POJOKSUMUT.com, JAKARTA-Peristiwa bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/7/2017) malam menyiskan duka mendalam, namun juga memunculkan tuduhan sekelompok orang yang menyebut kejadian adalah rekayasa Polri untuk pengalihan isu.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian secara tegas membantahnya.

Menurutnya, pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu adalah jaringan sel Mudiriyah Bandung Raya yang dipimpin Jajang, yang berkaitan langsung dengan jaringan Bahrun Naim yang pernah melakukan bom Thamrin.

“Jaringan Bahrun Naim merupakan cabang ISIS yang memiliki paham Takfiri yaitu menegakkan ideologi kekhilafahan,” ujar Kapolri dalam siaran persnya, kemarin (27/5/2017).

“Faham Takfiri ini mengajarkan untuk menyerang dua kelompok yang dianggap kafir yaitu Kafir Harbi dalam hal ini polisi yang dianggap sebagai kafir yang melakukan penyerangan agresif terhadap mereka,” jelasnya.

Kapolri menambahkan, polisi dianggap sebagai antek-antek negara kafir karena negara kita dianggap sebagai negara kafir yang berbeda ideologi dengan teroris dan menentang kekhilafahan.

Tito menyebut, penyerangan terhadap polisi oleh kelompok sel Mudiriyah Bandung Raya sudah dimulai Desember 2016, tapi berhasil digagalkan polisi.

“Bom di Simpang Lima Senen berhasil digagalkan kemudian pelakunya ditangkap ketika bersembunyi di waduk Jatiluhur. Kemudian bom panci yang targetnya Mapolda Jabar dan pos polisi di Taman Pandawa, bom meledak prematur. Pelakunya lari ke kantor Kelurahan kemudian dikejar sekelompok anak SMA, dikepung masyarakat dan pelakunya tertembak mati oleh polisi,” tegas Tito.

Lebih jauh Kapolri menjelaskan, waktu itu sudah terdeteksi nama pelaku bom bunuh diri Kampung Melayu dalam jaringan sel Ahmad Sukri dan Iwan. Namun mereka paham sistem komunikasi harus hati-hati untuk menghindari dideteksi polisi sehingga kemudian terjadilah bom bunuh diri Kampung Melayu.

Lantas, kenapa Kampung Melayu yang jadi target?

“Karena ada pos polisi, bukan masalah tempatnya tapi targetnya (calon korban) yang penting polisi yang sedang bertugas yang disebut mereka kafir harbi,” kata Tito.



loading...

Feeds