Terungkap! Harimau Sumatera Itu Dijerat, Diduga Organ yang Hilang Dijual ke Luar Negeri

Harimau yang ditombak mati warga.
foto : fir/pojoksumut

Harimau yang ditombak mati warga. foto : fir/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, LABURA-Tewasnya seekor Harimau Sumatera lantaran ditombak warga dengan alasan masuk perkampungan pada Rabu (25/5/2017) masih terus diselidiki. Pasalnya, tak lain karena ditemukan fakta hilangnya beberapa organ harimau malang itu.

Teranyar, dugaan lain menguak bahwa harimau itu bukan masuk kampung secara sengaja, namun dijerat.

Kepala Bidang Konservasi Wilayah I BBKSDA Muchtar Amin Ahmadi, Sabtu (27/5/2017) mengatakan kuat dugaan bagian tubuh harimau yang hilang dijual ke luar negeri seperti India dan Malaysia.

Dugaan ini terjadi karena warga langsung mengubur harimau sebelum pihaknya datang.

“Kemudian ternyata harimau yang terbunuh itu sudah dikubur oleh masyarakat,” kata Muchtar, dalam konfrensi pers, di BBKSDA Wilayah I, didampingi Kepala Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, Halasan Tulus, dan jajaran Polisi Hutan seperti dilansir metroasahan (grup pojoksumut)

Muchtar menambahkan, karena sudah dikubur, kemudian tim melakukan pendekatan kepada warga. Tim bermaksud membawa bangkai hewan malang itu untuk kepentingan penyelidikan.

“Sempat alot karena warga keberatan itu kita bawa, namun akhirnya berhasil kita bawa. Dari pengumpulan bukti-bukti di lapangan harimau mati akibat luka terbuka (bacokan) hingga tengkorak kepala, juga ada luka tombak di tubuh, serta beberapa bagian tubuh yang hilang,” akunya.

Dimana, beberapa bagian tubuh yang hilang itu antara lain alat kelamin harimau jantan tersebut, kulit bagian kening, kumis, dan ujung ekor dan terdapat luka lama bekas jerat pada kedua kaki.

“Dari ketiga kemungkinan harimau berada di pemukiman warga, dapat diduga bahwa harimau tersebut adalah harimau dewasa yang sedang sakit akibat luka jerat. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bekas luka lama pada kaki kanan depan dan salah satu kaki belakangnya,” ucapnya.

Kepala Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera, Halasan Tulus mengungkapkan, hilangnya bagian tubuh satwa yang dilindungi ini terindikasi pidana dan bagi pemiliknya juga bisa dijerat pidana.

“Di sana memang terindikasi ada jaringan penjual organ satwa, tapi apakah ini link ke situ masih kita selidiki,” kata Halasan.

Dikatakannya, kepemilikan organ atau bagian tubuh satwa yang dilindungi merupakan pelanggaran pidana.

“Kita mengimbau itu untuk dikembalikan,” terangnya.

Selain melakukan penyelidikan atas dugaan adanya sindikat penjualan organ satwa, penyidik kata Halasan, juga masih menyelidiki siapa yang melakukan penjeratan yang menyebabkan luka yang membuat harimau sakit dan masuk ke pemukiman.

“Karena penjeratan itu awalnya. Kita akan cari siapa penjeratnya, dimana dijerat,” ungkapnya.

Staf seksi perencanaan, perlindungan, pengawetan KSDA Fitri Nur, mengungkapkan, kawasan Aek Natas merupakan kawasan hutan produksi, yang menjadi perlintasan harimau. Sehingga jauh hari sebelum ini menurut Fitri, mereka telah mengingatkan warga untuk tidak memasang jerat. (syaf/jpg/nin)



loading...

Feeds