Nyawa Diganti Nyawa, Saya Minta Pelaku Dihukum Berat

Ida Parwitasari (paling kanan) ditenangkan keluarganya, berada dekat ketiga jenazah korban sebelum dimakamkan.
foto : Sutan Siregar/SumutPos/JPG

Ida Parwitasari (paling kanan) ditenangkan keluarganya, berada dekat ketiga jenazah korban sebelum dimakamkan. foto : Sutan Siregar/SumutPos/JPG

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Insiden mengerikan truk tabrak enam pengendara motor di lampu merah Jalan Ring Road, Minggu (28/5/2017) masih menimbulkan duka mendalam bagi Ida Parwitasari.

Dia harus kehilangan, suami (Indra Subahan Purba) dan dua anaknya yaitu Arisa Salwa (13) dan Anas Majid (8) yang masih kecil. Ida Parwitasari sama tidak pernah mengira ketiga orang yang disayanginya itu pergi untuk selamanya dengan cara tragis.

Di rumah duka yang terdapat di kediaman korban Jalan Masjid, Helvetia, dengan kondisi penuh berduka menuturkan, tak menyangka akan kejadian itu. Terduduk, dia meratapi jasad ketiga orang yang disayanginya itu.

“Tidak ada fisarat apapun. Saya tidak menyangka,” ungkapnya seperti dilansir Sumut Pos (grup pojoksumut).

Kepedihan Ida kian tak menentu, karena anaknya yang lain, Afia Zahro Purba mengalami patah kaki akibat terlindas truk tersebut.

Kepergiaan suami dan anak-anak benar-benar membuat Ida terpukul. Apalagi selama ini Indra yang sehari-hari berdagang ikan di Pasar Sei Sikambing adalah tulang punggung keluarga.

Ida menyebut, sebelum kejadian maut itu, suaminya sengaja pergi jalan-jalan bersama anak-anak.

Atas kejadian ini dia berharap polisi memberikan hukuman setimpal kepada sopir truk dengan hukuman yang berlaku di negeri ini. “Nyawa diganti nyawa. Saya minta pelaku diberikan hukuman berat,” kata Ida.

Sementara itu, Kepala Dishub Medan Renward Parapat menuturkan, pihaknya bersama Dirlantas Polda Sumut dan Satlantas Polrestabes Medan sudah selesai melakukan pengecekan sekaligus pemeriksaan terhadap kondisi truk.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui speksi dan hasil uji KIR terhadap truk derek terbuka tersebut masih berlaku. “Ya, KIR-nya lulus uji. Begitupun dengan speksinya. Kasus ini murni kelalaian,” kata Renward.

Dia mengungkapkan, KIR dan speksi truk tersebut selama ini dilakukan di Langsa, Aceh. Terakhir kali truk tersebut uji KIR di Medan pada 2015. “Speksinya hidup. Terakhir mereka urus di Medan tahun 2015. Tapi beberapa kali di Langsa (pengurusan KIR dan speksi),” katanya.

Pihaknya tetap mengimbau para pemilik truk atau bus melakukan uji KIR secara berkala, berikut pengurusan speksinya. “Ke depan kami imbau masa perawatan berkala. Sopir juga harus mengetahui kondisi kendaraan saat dibawa. Apalagi saat itu mereka membawa alat berat,” pungkasnya.

Dari penyelidikan polisi yang menghadirkan saksi ahli, mekanik mesin, terungkap kecelakaan itu karena rem blong.
Kanit Lakalantas Satlantas Polrestabes Medan, AKP Seodarjanto menambahkan, kecelakaan itu dipicu oleh blongnya rem truk tersebut.

Blong rem truk itu karena selang yang menghubungkan ke tabung longgar, sehingga saat pedal rem dipijak tak berfungsi. Kini baut telah dikencangkan kembali dan rem bisa kembali berfungsi. Tak cuma itu, rem tangan juga diketahui tak berfungsi. “Sebelum berangkat dari Langsa menuju Medan, sopir tidak kroscek truknya,” ungkap Seodarjanto.

Dikatakan Seodarjanto lagi, sopir truk Saiful Fadli (41), warga Langsa dijerat Pasal 310 ayat 4 tentang kelalaian berkendara menyebabkan orang meninggal dunia dengan ancaman 6 tahun penjara. Sopir dikenakan Pasal 301 ayat 4 tentang kelalaian berkendara. Ancaman hukumannya adalah 6 tahun penjara. (dvs/ila/iil/sp/JPG/nin)



loading...

Feeds