Sakit Skizofrenia Sering Dikira Kena Guna-guna

Ilustrasi, pixabay

Ilustrasi, pixabay

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Dokter spesialis penyakit jiwa, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) mengungkapkan, satu dari seratus orang di setiap negara di dunia mengalami skizofrenia atau gangguan jiwa berat.

Namun, penyakit ini seringkali dikaitkan dengan guna-guna, kutukan, kemasukan roh jahat dan hal-hal gaib lainnya.

“Masyarakat banyak yang belum paham tentang skizofrenia dan seringkali mengaitkannya dengan hal-hal gaib.”

“Bahkan kalangan terpelajar sekalipun masih banyak yang mempercayainya,” ungkap dr Elmeida kepada wartawan di Medan baru-baru ini.

Dia menyebutkan, gejala skizofrenia bisa terlihat, misalnya seseorang sering mengalami delusi, halusinasi, penarikan diri dari sosial, agresivitas tinggi dan terganggunya fungsi kognitif.

Gangguan ini tidak hanya mempengaruhi penderita, tetapi juga menimbulkan beban besar terhadap keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Penyakit ini, kata Elmeida, bisa diderita oleh masyarakat tanpa memandang tingkat pendidikan dan ekonominya. Makanya, setiap tanggal 24 Mei selalu diperingati Hari Skizofrenia sedunia.

“Gejala paling sering adalah mengalami halusinasi pendengaran. Pasien sering mendengarkan suara-suara tanpa sumber jelas dan kadang membalasnya, sehingga sering terlihat seperti berbicara sendiri,” paparnya.

Bahkan, lanjut Elmeida, beberapa penderita sering berhalusinasi mendengar suara yang memerintahkan melakukan hal jahat, bunuh diri dan orang lain.

Sebagaimana juga dengan gangguan jiwa yang lainnya, skizofrenia juga disebabkan banyak faktor, seperti genetik, biologik dan psikososial.

“Orang yang memiliki keluarga skizofrenia bisa mewariskan gen penyakit ini. Namun tidak harus berkembang menjadi skizofrenia juga.”

“Lalu faktor biologik diakibatkan ketidakseimbangan zat-zat kimia di otak,” cetusnya.

Sedangkan dari segi psikososial, sambungnya, bisa berupa hal-hal yang menyebabkan stresor pada pasien. Misalnya komunikasi yang membingungkan, kata-kata menyakitkan dan pengalaman tidak menyenangkan.

Menurut dia, rata-rata pasien jiwa yang berobat ke rumah sakit (RS) umum bagian psikiatri, RS jiwa pemerintah maupun swasta, diagnosisnya kebanyakan adalah skizofrenia.

Namun pada umumnya, yang datang berobat sudah dalam kategori parah, karena sebelumnya pengobatan justru dilakukan pada dukun atau paranormal.

“Setiap hari di praktik sore saya ada dua sampai tujuh pasien skizofrenia. Lalu tugas pagi ada sampai tiga pasien. Jadi sangat banyak penderita gangguan jiwa jenis ini,” sebutnya.

Ia mengaku, banyak masyarakat yang mengidentikkan berbagai jenis gangguan jiwa dengan istilah gila.

Kata ini sering dipakai untuk gangguan jiwa berat, umumnya yang psikotik. Dalam hal ini, penderita sudah tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan.

“Jika fase-fase penyakit skizofrenia sudah tenang, yang terjadi kemudian adalah gangguan atau kemunduran kognitif pasien.”

“Misalnya, yang dulu ranking 1 jadi tidak bisa lagi melanjutkan prestasi di sekolah,” tandasnya.

(fir/sdf)



loading...

Feeds