Dua Terduga Pelaku Kekerasan Terhadap Remaja Penghina Habib Rizieq Ditahan

POJOKSUMUT.com, JAKARTA-Dua pria terduga pelaku intimidasi di Cipinang Muara, Jakarta Timur (Jaktim), Kamis (1/6/2017) berhasil ditangkap.

Keduanya, M (52) dan U (22), diduga terlibat langsung terkait main hakim dengan kekerasan fisik terhadap Putra Mario Alfian (15).

“M (52) berprofesi sebagai tukang ojek dan U (22) atlet pencak silat,” ungkap Kapolrestro Jaktim Komisaris Besar, Andry Wibowo kepada Kantor Berita Politik RMOL (Jawa Pos Group), Jumat (2/6/2017).

Menurut Andry, saat ini keduanya telah dilimpahkan ke Polda Metro Metro Jaya (PMJ) untuk diperiksa. Untuk status keduanya, masih sebagai terduga.

“Saat ini, statusnya masih terduga pelaku,” tegas Andry.

Sebelumnya, beredar video viral aksi kekerasan sejumlah pria yang diduga anggota Front Pembela Islam (FPI), terhadap Putra.

Semula, sekelompok pria berpeci mulai menginterogasi remaja berkacamata itu. Dirinya “disidang” pasal unggahan di media sosial (medsos) yang menyinggung organisasi FPI dan pimpinan mereka M. Rizieq Shihab.

Salah satunya, menyebut FPI sebagai kependekan dari Front Pengangguran Indonesia. Ia juga menyebut ulama FPI main di hotel yang terkenal lantaran adanya prostitusi terselubung. Serta menantang duel satu lawan satu pihak-pihak yang tak terima dengan pernyataannya.

Dalam prosesnya, remaja tersebut juga dianiaya oleh dua orang dalam kerumunan. Ancaman dan pernyataan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), juga sempat terdengar dalam video berdurasi dua menit itu.

Kasus ini tak hanya ditangani penyidik Polrestro Jaktim, tapi juga PMJ. Untuk pemeriksaan saksi-saksi juga sudah dilakukan.

“(Saksi-saksi) udah diperiksa di Polda. Polres juga nangani. Jadi rame-rame Polda dan Polres (yang tangani),” terang Andry.

Lebih lanjut, Andry meminta agar peristiwa serupa tak terulang. Aksi main hakim sendiri dinilai tak perlu dilakukan. Ia meminta masyarakat untuk saling bertoleransi satu sama lain, agar hubungan yang harmonis antar warga, bisa terjaga.

“Semua itu ada mekanismenya. Jangan main hakim sendiri. Namanya toleransi itu harus menjaga perasaan orang lain. Kalau tidak mau dicubit, jangan nyubit orang. Kalau gak mau disakiti, jangan menyakiti orang,” pungkas Andry. (rus/rmol/jpg/nin)



loading...

Feeds