Kisah Dua Pedagang Keliling Taklukkan Buaya Seberat 500 Kg

TERTANGKAP : Warga berupaya menaikkan buaya raksasa yang ditangkap dua orang pedagang keliling dari Sungai Langkai, Jumat (26/5/2017)

TERTANGKAP : Warga berupaya menaikkan buaya raksasa yang ditangkap dua orang pedagang keliling dari Sungai Langkai, Jumat (26/5/2017)

POJOKSUMUT.com, DUA pedagang keliling di Batam mengambil risiko melawan buaya karena khawatir si buaya bakal mengancam aktivitas mereka dan warga lain. Hanya berbekal kayu sambungan, tali jangkar, dan satu senter.

Dengan pelan-pelan, dua pria itu mendorong dua batang kayu yang sudah disambung. Di ujungnya dipasang tali jangkar yang telah diubah menjadi jerat Hari beranjak senja. Mulai gelap. Di tangan Doni Efendi dan Erwin, dua pria tersebut, hanya ada satu senter sebagai sumber penerangan.

 

Sementara itu, beberapa meter dari perahu pancung yang mereka naiki, sang “musuh” begitu menggetarkan: besar, diam, seolah memang sudah menunggu untuk diserang dan menyiapkan serangan balik!

Satu, dua, tiga, saat jerat sudah sampai di hadapan moncong sang musuh, sial, tali tersangkut sesuatu. Butuh waktu yang tak sebentar bagi mereka untuk melepaskan tali itu dari sangkutan. Sekaligus memikirkan bagaimana memasukkan jerat ke leher si buaya.

Baru setelah badannya bergerak karena disenggol dengan kayu, jerat itu masuk ke leher. Selesai? Malah sebaliknya. Buaya besar tersebut, sang musuh itu, berontak.

Dengan tenaga besarnya, ia menyeret Doni dan Erwin yang memegangi tali ke hilir. Yang diseret berusaha keras menahan laju buaya. Suasana pun menjadi sangat menegangkan.

Pada detik-detik kritis itu, pikiran mereka berkecamuk: Bagaimana jika buaya sepanjang sekitar 5 meter tersebut balik badan dan menyerang? Sementara hari kian gelap. Dan, tak ada siapa pun di tepian Sungai Seilangkai, Sagulung, Batam, senja itu, selain mereka…

Semuanya seolah berjalan seperti biasa pada Kamis sore lalu (25/5/2017) itu bagi Doni dan Erwin. Mereka menyusuri Sungai Seilangkai dalam perjalanan pulang setelah menjajakan barang dagangan ke beberapa pulau kecil di sekitar Batam.

Sudah bertahun-tahun mereka menggeluti pekerjaan sebagai pedagang keliling. Dengan mereka bertempat tinggal di Perumahan Putera Moro 2 dan Perumahan Puteri Hijau di Kelurahan Seilekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Sungai Seilangkai merupakan jalur satu-satunya menuju rumah.

Melihat monyet berloncatan atau beragam binatang air pun praktis sudah menjadi makanan sehari-hari mereka tiap pergi atau pulang lewat sungai itu. Tapi, sore itu, sekitar 2 kilometer dari hilir, di mana rumah mereka berada, pandangan keduanya bersirobok dengan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: seekor buaya besar yang tengah berjemur di rawa-rawa di tepi sungai.

Terkejut, tentu saja. Doni dan Erwin seketika menghentikan laju perahu pancung. Mereka lalu mengamati buaya tersebut dari jarak sekitar 6 meter.

“Tampak diam dan tenang saja buaya itu. Justru kami yang khawatir, takut diserang,” ujar Doni kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).

Meski dilanda rasa takut yang luar biasa, Doni langsung mengabadikan gambar buaya raksasa itu dengan ponsel pintarnya. Lantas mengunggahnya ke media sosial.

Hampir setengah jam mereka memperhatikan buaya itu. Buaya pun demikian. Sama-sama diam. Saling mengawasi. Seperti dua musuh yang tengah memasang kuda-kuda.
“Jujur, gemetar badan saya saat itu,” ungkap Doni.

Bagian perut buaya tersebut tampak membengkak. Seperti baru selesai makan atau menelan sesuatu. “Baru habis makan monyet kali ia. Perutnya bengkak,” kata pria 31 tahun itu.

Melihat kondisi buaya yang sangat mungkin sedang kekenyangan itu, Doni dan Erwin akhirnya berani membuka suara. Mereka berdiskusi untuk mengambil langkah selanjutnya.

Erwin yang lebih tua sembilan tahun daripada Doni menyarankan agar buaya tersebut dibiarkan saja. “Kita cuma berdua, mana bisa menaklukkan buaya itu. Itu misi bunuh diri namanya,” kata Erwin, seperti ditirukan Doni.

Tapi, Doni punya pertimbangan lain. Jika buaya tersebut tidak ditangkap, ke depan, rutinitas berdagang mereka akan berisiko. Bisa-bisa binatang purba itu akan menyerang mereka di lain waktu saat melintasi sungai tersebut.

“Sungai ini satu-satunya jalan keluar dan masuk kami,” ujar ayah satu anak itu. Pertimbangan lain, sungai tersebut selama ini ramai didatangi warga untuk memancing. Anak-anak juga sering datang untuk bermain layang-layang. “Bisa saja orang mancing atau anak-anak yang main diserangnya nanti,” tutur Doni.

Dari pertimbangan-pertimbangan itu, Doni akhirnya mengajak Erwin menangkap buaya tersebut meskipun hanya berdua. Tentu saja mereka sadar bahwa itu tak mudah. Perlu perhitungan yang matang.

“Apalagi, hari sudah mau gelap dan kondisi sungai berlumpur karena rawa-rawa. Jadi, kalau kami dekat, tentu sangat berbahaya,” papar Doni.



loading...

Feeds