Si Bungsu Selalu Menanyakan Ibunya : Kapan Mama Pulang, Aku Rindu

Petugas menggendong jenazah bayi yang dibuang ibunya.
foto : metrosiantar

Petugas menggendong jenazah bayi yang dibuang ibunya. foto : metrosiantar

POJOKSUMUT.com, SIANTAR-R, janda yang membunuh bayi hasil hubungan gelapnya di perkebunan sawit, Huta Pondok II, Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Rabu (31/5/2017) kemarin kini meringkuk di dalam sel Polsek Tanah Jawa, Siantar, Sumatera Utara.

Mirisnya, R pun harus meninggalkan buah hatinya, dan terpaksa menyembunyikan kasus ini dari putra bungsunya, HT. Setiap hari bocah tujuh tahun ini pun selalu menanyakan keberadaan sang ibu.

“Kapan mama pulang, aku rindu,” demikian ungkapan HT kepada kakak-kakaknya di rumah kos mereka. Ia selalu menanti kepulangan R br S hingga malam hari. Bahkan sebelum tidur, HT selalu menangis mengingat dan mencari keberadaan ibunya.

Biasanya, R br S memang menceritakan dongeng setiap HT hendak tidur. Apalagi kasih sayang orang tua hanya didapat HT dari sang ibu. Sebab saat masih berusia 1 tahun, HT sudah ditinggal sang ayah yang meninggal dunia karena sakit.

Nah, agar HT bisa tidur, kakaknya S br T (20) pun berusaha menenangkannya. S br T kemudian mengatakan bahwa ibu mereka sedang pergi pesta ke tempat yang jauh, sekaligus pergi mengunjungi keluarga.

“Memang sejak kecil, dia cuma punya ibu. Ayahnya meninggal dunia saat ia berusia setahun,” kata R saat ditemui di Mapolsek Tanah Jawa, Sabtu (3/6/2017).

Dia menambahkan, yang mengambil alih tanggung jawab di rumah saat ini adalah putrinya S br T. “Jadi dialah (S br T) yang menanggungjawabi dan membiayai uang kos dan biaya hidup tiga adik-adiknya, termasuk yang sekolah di SMA Negeri dan dua lagi di SMP Negeri, putrinya yang membiayainya. Dananya diambil dari hasil kebun sawit kami yang luasnya 22 rante,” jelasnya.
Tragisnya, pria yang menghamili R pun raib entah kemana. Pria tak bertanggung jawab itu disebutnya bernama DS, warga Desa Huta Bagasan, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, Asahan. DS adalah duda dan profesi sehari-harinya sebagai anggota lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Menurutnya, pertama kali ia kenal dengan DS lewat telepon seluler. Saat itu ia sedang berada di Pasar Horas Pematangsiantar. Tiba-tiba telepon selulernya berdering dan seorang pria yang tidak ia kenal menghubungi. Setelah diangkat, pria tersebut mengatakan ingin bertemu dengannya di pusat perbelanjaan Ramayana.

Sejak saat itu, mereka sering bertemu di Pasar Horas. Selanjutnya mereka naik angkot CV Sepakat menuju pemandian Karang Anyar. Di tempat itu, mereka selalu menyewa kamar untuk beristirahat. Bahkan lebih dari itu, mereka selalu melakukan hubungan layaknya suami isteri.

Akibat hubungan gelap itu, R br S akhirnya hamil. Janin dalam kandungan pun semakin membesar dan tanpa terasa sudah berusia 5 bulan. Ketika ditanyakan kepada pria idamannya itu, DS selalu menjawab agar janin itu digugurkan saja. Meski begitu, DS tak memberikan solusi, termasuk soal dana untuk aborsi.



loading...

Feeds