Banyak Warga Menyaksikan Perkelahian Maut Siswa SMK Itu, tapi Tak Ada yang Melerai

Korban saat diotopsi.
foto : metroasahan/JPG

Korban saat diotopsi. foto : metroasahan/JPG

POJOKSUMUT.com, TAPSEL-Perkelahiran antar remaja yang menewaskan Muslim Nasution (17) di tangan rekannya Rizki (19) menyisakan fakta miris.

Ternyata, siswa SMK itu meregang nyawa disaksikan banyak orang. Namun, tak satu pun, ada yang melerai perkelahian itu.

Kasat Reskrim Polres Tapsel, AKP Cahyadi, Selasa (6/6/2017) menjelaskan, antara korban dan pelaku merupakan teman. Untuk motif dan penyebab perseteruan antara keduanya, Cahyadi masih enggan membuka secara jelas.

Perwira dengan balok emas di pundaknya ini menerangkan, dalam perkelahian yang tidak seimbang itu, pelaku Rizki yang merupakan warga Bange, Sayurmatinggi itu menggunakan alat berupa pisau.

“Untuk motifnya kita belum bisa membukanya secara gamblang, nanti saja saat press rilis. Tapi ini memang perkelahian. Saat kejadian itu banyak yang menyaksikan, tidak hanya temannya, tapi banyak,” katanya yang mengamankan pelaku pada malam peristiwa itu juga.

Sebelumnya, Muslim Nasution, remaja berusia 17 tahun dilarikan ke Puskemas Pintupadang, dengan luka tikam di perutnya, Minggu (4/6/2017) malam. Namun, pelajar kelas II jurusan Teknik Permesinan SMKN 1 Batang Angkola itu, tewas saat dalam perjalanan menuju IGD RSUD Kota Padangsidimpuan pada pukul 22.45 WIB.

Menurut keluarga korban, Muslim yang tercatat sebagai warga Desa Padang Kahombu, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan ini, beranjak dari rumahnya bersama empat rekannya, warga yang sama, usai berbuka puasa.

Selanjutnya, mereka mendapat kabar dari teman-teman korban, Muslim telah dilarikan ke Puskesmas Pintupadang setelah tertikam.

“Dikabari temannya. Di Tolang, ada dua temannya yang tinggal, keduanya ditahan warga di sana,” terang Tungket Muda Nasution, mendampingi ayah korban, Ahmad Mulia Nasution yang tengah terpukul mendapati anak ketiganya itu sudah tidak bernyawa.

“Di Tolang, belum dapat modus dan peristiwa ini. Karena kami langsung ke sini. Jam 8 waktu Tarawih itu (mendapat kabar),” tambahnya lagi.

Dari kasak-kusuk warga yang ditemui di RSUD Kota Padangsidimpuan, korban diduga ditikam rekannya berinisial R yang berangkat bersama dari desa mereka menuju ke arah Tolang, Kecamatan Sayurmatinggi.

Menurut catatan dokter IGD RSUD Kota Psp, dr Hanif, mereka menerima korban masih menggunakan pakaian dengan celana jeans berwarna biru dan kaos oblong berwarna hitam.

Tubuh bertinggi 155 sentimeter itu dinyatakan sudah tidak bernyawa lagi dengan luka robek di kelopak mata kiri dengan panjang 2 sentimeter dan fraktur terbuka pada tulang hidung. Di batang hidungnya juga mengalami luka robek dengan lebar 3 kali 1 sentimeter.

Kemudian luka paling fatal yang dialami korban yakni luka tusuk di perut tepat di atas pusar. Luka lainnya yakni lecet tidak beraturan di jari-jari korban.

Masih menurut Tungket, keluarga yang mendampingi. Beberapa dari mereka termasuk Kepala Dusun di Padang Kahombu sudah melaporkan peristiwa itu ke Polsek Batang Angkola.

Kapolsek Batang Angkola, AKP Iswanto menjelaskan, peristiwa tewasnya Muslim merupakan perkelahian yang berujung kematian dengan rekannya, R.

“Bukan pembunuhan ya. Perkelahian yang menyebabkan kematian, pelaku menggunakan alat, senajata tajam pisau,” ungkapnya yang mengaku masih di TKP mengumpulkan kronologis peristiwa itu secara lengkap. (san/mt/jpg/nin)



loading...

Feeds