Harga Bawang Putih di Medan Mulai Turun

Bawang Putih
foto : pixabay

Bawang Putih foto : pixabay

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Harga bawang putih mulai berangsur-angsur turun. Harga salah satu komoditas tersebut, kini dijual sekira Rp40.000 hingga Rp42.000 dari sebelumnya Rp50.000 per kg.
Menurut pedagang sayuran Pasar Simpang Limun Medan, Asma, mulai turunnya harga bawang putih tersebut lantaran pasokan mulai membaik. Kata dia, penurunan harga terjadi sejak awal pekan ini.
“Sekarang seperempat kg harganya sekitar Rp10.000, jadi sekilo Rp40 ribuan. Kalau sebelumnya (pekan lalu) enggak dapat segitu,” ujarnya, Kamis (8/6/2017).
Senada dengan Asma, diutarakan pedagang Pasar Kwala Bekala Medan, A Sinuhaji. Dia mengaku bersyukur harga bawang putih mulai turun.
“Syukurlah mulai turun harganya, makanya sekarang mulai banyak yang beli. Kalau sewaktu harganya naik yang beli cuma sedikit, paling-paling sehari dapat 1 atau 2 kg,” cetusnya.
Sementara, Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin menyatakan hal yang tak jauh berbeda.
Dibilangnya, harga bawang putih akhir-akhir ini berangsur mengalami penurunan setelah sempat menyentuh Rp50ribu per kg.
“Saat ini bawang putih dijual di kisaran harga Rp42 ribu per kg. Harga itu sudah mulai turun dan saya pikir ini menjadi kabar baik. Meski demikian, harga bawang putih di Medan masih belum mampu turun dikisaran Rp38 ribu per kg,” kata Gunawan.
Dia menyebutkan, secara keseluruhan harga yang berlaku di pasar saat ini sangat stabil. Volatilitas yang cukup besar terjadi pada harga pangan holtikultura meskipun tidak terlalu dirisaukan.
“Kita berharap harga kebutuhan pokok masyarakat saat ini mampu dipertahankan hingga lebaran usai. Lonjakan konsumsi menjelang lebaran diharapkan mampu untuk diatasi,” ucapnya.
Ia menuturkan, meski harga kebutuhan pokok cenderung stabil tetap tidak boleh terlena. Sebab, potensi fluktuasi harga dengan kecenderungan naik tetap berpeluang terjadi hingga lebaran tiba.
“Terpenting yang perlu dilakukan saat ini adalah kita menjaga ketersediaan bahan pangan yang memadai. Selanjutnya adalah dengan mempertimbangkan kemungkinan lonjakan konsumsi akibat adanya tambahan uang belanja masyarakat setelah THR,” cetus Gunawan. (fir/pojoksumut)


loading...

Feeds