Bikin Malu! Oknum Polisi Minta Bantuan Warga Rekayasa Kasus, Dibayar Rp50 Ribu

Warga Desa Teluk Melano, Simpang Hilir, Kayong Utara, Kalimantan Barat menggelar rapat membahas rekayasa kasus oleh oknum polisi. (FOTO: RAKYAT KALBAR/JPG)

Warga Desa Teluk Melano, Simpang Hilir, Kayong Utara, Kalimantan Barat menggelar rapat membahas rekayasa kasus oleh oknum polisi. (FOTO: RAKYAT KALBAR/JPG)

POJOKSUMUT.com, MISRI Satudinatara tak menyangka bakal jadi “mainan” sejumlah oknum polisi di kepolisian sektor Teluk Melano, Rabu (31/5/2017) lalu. Ia dan tiga rekannya diminta pura-pura jadi penjahat yang membawa senjata tajam, untuk kemudian dirazia oleh oknum polisi di bawah bendera Operasi Pekat.

“Datanglah anggota (kepolisian) menawarkan menjadi preman. Jadi dikasihlah kami bertiga senjata tajam (Sajam) dan juga anggota satunya lagi mengantarkan arak (sebotol),” tutur Misri saat ditemui di kantor Desa Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Rabu (8/6/2017).
“Katanya kalau ditanya (polisi) jangan ketawa, bilang jak jaga malam,” lanjutnya.

Ia dan teman-temannya murni ingin membantu. Apalagi, mereka mengantongi rupiah yang lumayan dari si oknum polisi yang meminta tolong tersebut.

“Kami dikasih uang Rp50 ribu satu orang. Mereka hanya bilang tolong bantu kami, nanti kalau dapat (mengalami) suatu hal, mereka bantu kami juga,” beber Misri.

Ibarat di film-film, penggerebekan pada Operasi Pekat malam itu pun disebut-sebut telah disetting. Diatur sedemikian rupa. Sehingga, ketika beberapa oknum polisi menggerebek dan menangkapi mereka pada pukul 10 malam di pelabuhan setempat, Misri dan kawan-kawan manut saja. Dan dijadikanlah tiga senjata tajam plus sebotol arak sebagai barang bukti Operasi Pekat malam itu.

“Ada anggota yang datang pukul 10 (menggerebek) kami tahu, dia bilang hanya sampai di sini saja,” jelas warga Desa Teluk Melano itu.

Nahasnya, peristiwa tersebut diliput oleh sejumlah media massa. “Tapi kalau sampai naik ke media, kami tidak tahu,” ujarnya.

Ketika diberitakan, Misri bersama kedua rekannya merasa sangat malu. Merasa nama mereka tercoreng. Ia berharap, kepolisian khususnya Polsek Simpang Hilir dapat menyampaikan permintaan maaf ke media untuk memulihkan nama mereka di masyarakat.

“Saya dipanggil ke Polsek, dikasih senjata tajam. Jelas saya malu sekali wajah kami nampak di video itu,” tukasnya.

Terlebih, buah hatinya yang berdiam di ibu kota Provinsi Kalbar juga mendapat kabar penangkapan Misri yang direkayasa tersebut. “Anak saya di Pontianak tahu, dimarahnya saya, keluarga besar saya malu. Kami tidak ada tekanan, murni membantu, kami bantu dia, nanti kalau ada apa-apa dia bantu kami,” ulang Misri.

Dikonfirmasi, Kepala Polsek Simpang Hilir, Iptu Muhammad Geobra. Pria yang baru beberapa bulan bertugas di sana ini mengaku sangat terpukul atas terungkapnya dugaan rekayasa penangkapan tiga warga yang membawa senjata tajam pada Operasi Pekat tersebut.

“Kami akan mendalami dan meninjau hal ini. Kami akan memperbaiki sistem ini, apakah ada yang salah atau tidak,” terang Geobra.

Selaku pimpinan di Polsek Simpang Hilir, ia menyampaikan permohonan maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan itu. Permohonan maaf ini, kata Goebra, lebih dikhususkan kepada ketiga warga yang merasa telah dipermalukan.

“Saya selaku Kapolsek memohon maaf untuk kegiatan anggota saya, yang mana ada suatu hal yang menyebutkan oknum atau apa tentang premanisme,” tuturnya.

Atas kejadian ini pula, dirinya berjanji akan berkoordinasi dengan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam).

“Karena ini berkaitan dengan kegiatan anggota, kemudian kami melakukan pengembangan dan perubahan di Polsek. Apa yang kurang akan kita rubah, akan kita tindak tegas sesuai ketentuan Polri,” pungkas Goebra.



loading...

Feeds