Kisah Satu Keluarga Beda Agama, Ayah Islam, Ibu Buddha, Dua Putranya Kristen

Djoni Efendi Halim (kiri) dan istrinya, Vivi (kanan) mengapit dua anak mereka, Sujono Halim dan Sumulyo Halim. (Rizal Setyo Nugrono/radar jogja)

Djoni Efendi Halim (kiri) dan istrinya, Vivi (kanan) mengapit dua anak mereka, Sujono Halim dan Sumulyo Halim. (Rizal Setyo Nugrono/radar jogja)

POJOKSUMUT.com, KELUARGA Djoni Efendi Halim bisa menjadi gambaran betapa harmonisnya keberagaman khas warga Indonesia. Perbedaan agama yang dianut masing-masing anggota keluarga tak menjadikan perpecahan. Yang ada justru kebersamaan untuk membentuk keutuhan keluarga.

 
Berbeda agama dengan istri dan anak-anaknya tak membuat Djoni Efendi Halim merasa asing di tengah mereka. Keberagaman agama dalam satu atap rumah di Dusun Mandingan, Desa Ringinharjo, Bantul, malah membuat keluarga pria 64 tahun itu menjadi tempat belajar mengasah keberagaman hidup, sekaligus mensyukuri hal tersebut sebagai pemberian Tuhan.

Bagaimana tidak, dari empat anggota keluarganya, tak satu pun memeluk agama yang sama. Djoni adalah seorang muslim. Sedangkan istrinya, Vivi (50), pemeluk Buddha. Sementara anak pertama mereka, Sumulyo Halim (22) Kristen Karismatik. Dan si bungsu, Sujono Halim (20), menganut ajaran Kristen Jawa.

“Bagi kami, prinsip agama yang kami percayai bukan keturunan. Tetapi bersifat holistik dan spiritual. Hal itu tidak diturunkan melainkan didapatkan dari pribadi masing-masing,” ungkap Sumulyo Halim saat berbincang dengan Radar Jogja (grup pojoksumut), Senin (12/6/2017).

Mengenai perbedaan agama di keluarganya, Sumulyo menceritakan, awalnya kedua orang tuanya beragama Buddha. Lalu, suatu ketika ayahnya melakukan perjalanan spiritual ke Jawa Barat. Sampai akhirnya kemudian dia memeluk Islam. Sementara ibunya tetap pada kepercayaannya.

 
Kemudian, saat dia berusia tujuh tahun, dua orang tuanya mengenalkan berbagai macam agama yang ada di Indonesia.

Seiring kematangan usianya, Halim memantapkan diri memeluk Kristen sebagai akhir dalam pencarian akan kepercayaan spititual yang dianut.
Soal pilihan agamanya itu, Djoni dan Vivi tidak keberatan. “Kami bangga memiliki orang tua dan keluarga yang bisa saling menghormati pilihan anak-anaknya. Bahkan sampai ke masalah agama,” tuturnya.

Meski beda agama, rasa persaudaraan dalam keluarga tetap dijunjung tinggi. Termasuk dalam hal peribadatan. Masing-masing saling mendukung. Contohnya, ketika sang ayah menjalankan ibadah puasa, ibunya rutin menyiapkan sahur dan menu berbuka. Pun ketika hari raya, mereka juga saling mengunjungi keluarga dan bersilaturahmi sanak famili dan tetangga. Sebagaimana tradisi umat muslim saat Lebaran.

Hal yang sama juga berlaku ketika ibunya merayakan Waisak. Seluruh keluarga ikut membantu menyiapkan keperluan. Demikian pula ketika perayaan Natal. Djoni dan Vivi setia menyiapkan hidangan istimewa untuk kedua anaknya. “Di kartu keluarga juga ditulis agama masing-masing,” tuturnya.



loading...

Feeds

SAH! Besok Kita Lebaran

Menurutnya, hilal terlihat di pada sudut ketinggian 3,88 derajat dengan umur bulan 8 jam 15 menit dan 24 detik. Hal …