Ritual Adat Mengenang 110 Tahun Meninggalnya Raja Sisingamangaraja ke-XII

Ritual dalam memperingati 110 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII yang digelar di Makam Raja Sisingamangaraja XII, di Pagar Batu, Kecamatan Balige, Tobasa, Sabtu (17/6/2017).

Ritual dalam memperingati 110 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII yang digelar di Makam Raja Sisingamangaraja XII, di Pagar Batu, Kecamatan Balige, Tobasa, Sabtu (17/6/2017).

POJOKSUMUT.com, TOBASA-Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada dipimpin Raja Sampuara Marpaung, menggelar ritual adat tonggo (doa) dan tortor untuk memperingati 110 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Raja SM (Sisingamanga) Raja XII yang digelar di Makam Raja SM Raja ke-XII, di Pagar Batu, Kecamatan Balige, Tobasa, Sabtu (17/6/2017).

Acara tersebut digelar bersamaan dengan Ziarah Nasional yang digelar Pemkab Tobasa yang diikuti para pimpinan SKPD dan PNS di lingkungan Pemkab Toba Samosir, jajaran Polres Tobasa, Koramil 17 Balige, prajurit TNI Kipan A-Yonif 125 Simbisa Onan Sampang Balige, organisasi wanita, mahasiswa/i, para pelajar SMP/SMA, serta Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada.

Di sela kegiatan, Bupati Tobasa Darwin Siagian berjanji, ke depannya acara ritual ini akan dikemas lebih baik dan professional, sehingga menjadi atraksi wisata yang menarik wisatawan untuk datang menyaksikan betapa tingginya peradaban leluhur “Bangso Batak”.

“Tahun depan kita akan kemas acara seperti ini lebih baik lagi dengan melibatkan banyak pihak tanpa meningggalkan makna dan esensi dari upacara dimaksud, sehingga menjadi event atraksi wisata adat yang menarik. Dan, kita juga akan melakukan renovasi makam Raja Sisingamangaraja XII ini dengan anggaran dari Kementerian Pariwisata RI, ” terang Darwin.

Saat pembacaan sejah singkat Raja Sisingamangaraja, dalam ziarah itu diketahui bahwa Pahlawan Nasional dari Tanah Batak itu gugur saat kontak senjata melawan penjajahan Belanda pada 17 Juni 1907 di daerah Sitapongan, Sionom Hudon, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, setelah bergerilya selama sekitar 30 tahun (1878-1907) melawan tentara penjajah kolonial Belanda.

Sisingamangaraja XII gugur dalam Perang Batak bersama dua putranya, yakni Raja Patuan Nagari dan Raja Patuan Anggi serta putri tercintanya Siboru Lopian.
Setelah dimakamkan di kawasan Tangsi, Tarutung, akhirnya pada 17 Juni 1953 tulang belulangnya dimasukkan ke monumen yang telah dibangun Pemerintah Republik Indonesia, keluarga dan masyarakat di Pagar Batu, Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Pada akhirnya Raja Sisingamanangaraja XII dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tanggal 19 Nov 1961.
Seperti diketahui, sebelum acara puncak peringatan, Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada yang dipimpin Sampuara Marpaung (80) sebagai Ulu Punguan telah menggelar ritual adat memperingati wafatnya Sang Pejuang Raja Batak yang dipusatkan di Desa Bius Gu Barat, Kecamatan Parmaksian, kemarin malam, Jumat (16/6). Kegitan ritual itu diiringi Ogung Sabangunan (alat musik berupa gendang dan serunai-red) dan digelar hingga larut malam.

Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu para pengikut aliran kepercayaan melakukan ritual memberikan Mombang atau sesajen yang berisi makanan, diantaranya kambing putih, ayam putih, ihan Batak dan beberapa buah-buahan.

Sesajen tersebut digantungkan di tengah-tengah rumah, sekaligus memberikan wewangian dengan membakar kemenyaan. Hal ini dilakukan untuk memohonkan kepada Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi-red) agar diberi kesehatan dan kebaikan.

Bupati Darwin Siagian juga menghadiri acara itu. Saat itu, Raja Sampuara Marpaung dalam sambutannya memohon agar sejarah perjuangan Raja Batak tetap dikenang melalui buku-buku mata pelajaran sekolah. Mengingat banyak anak didik suku Batak yang perlu mengingat sejarah perjuangan Batak melawan penjajah. (ft/newtapanuli/jpg)



loading...

Feeds